Rabu, 11 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Ramadhan: Antara Ibadah Khusyuk, War Takjil, dan Ujian Menahan Scroll TikTok

Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 15 February 2026 | 01:00 PM

Background
Ramadhan: Antara Ibadah Khusyuk, War Takjil, dan Ujian Menahan Scroll TikTok
Ibadah Ramadan (Pexels.com/RDNE Stock project)

Begitu hilal diputuskan terlihat, atmosfer di Indonesia langsung berubah 180 derajat. Tiba-tiba saja, jadwal tidur berantakan, grup WhatsApp keluarga mulai ramai dengan stiker "Marhaban ya Ramadhan" yang itu-itu saja, dan mendadak semua orang jadi ahli strategi perang demi mendapatkan gorengan bakwan paling krispi di pinggir jalan. Ya, selamat datang di bulan Ramadhan, sebuah momen di mana spiritualitas bertemu dengan realita kehidupan urban yang penuh hiruk pikuk.

Ibadah Ramadhan itu sebenarnya unik. Kalau kita bicara soal "ibadah," bayangan orang biasanya adalah duduk diam di masjid sambil memegang tasbih. Tapi di sini, ibadah itu bentuknya macam-macam. Ada yang ibadahnya berupa perjuangan melawan gravitasi kasur saat jam 3 pagi demi sepiring nasi dan sayur lodeh sisa semalam. Ada juga yang ibadahnya berupa kesabaran tingkat dewa saat menghadapi bos yang kasih revisi jam 4 sore, tepat di saat kadar glukosa dalam otak sudah mencapai level kritis.

Tarawih: Marathon Spiritual atau Ajang Adu Kecepatan?

Salah satu highlight utama tentu saja shalat Tarawih. Ini adalah momen di mana masjid-masjid penuh sesak sampai ke teras, setidaknya di minggu pertama. Kita semua tahu polanya: minggu pertama penuh, minggu kedua mulai ada "seleksi alam," dan minggu ketiga shafnya maju pesat karena orang-orang sudah mulai sibuk di pusat perbelanjaan atau sibuk packing buat mudik.

Tapi jujur saja, Tarawih itu punya vibes yang magis. Ada rasa kebersamaan yang aneh saat kita berdiri berdampingan dengan tetangga yang biasanya cuma kita sapa lewat klakson motor. Meskipun ya, ada dilema abadi antara memilih masjid yang imannya baca surat panjang supaya lebih "kerasa" atau masjid yang imannya punya kecepatan 4G alias kilat biar bisa cepat pulang dan nonton serial Netflix yang tertunda. Tak jarang, pemilihan masjid ini sudah jadi diskusi internal keluarga yang cukup alot layaknya debat pilpres.

War Takjil: Ibadah Berbalut Kompetisi

Tahun ini, istilah "War Takjil" mendadak viral. Fenomena ini sebenarnya menunjukkan sisi inklusif dari Ramadhan di Indonesia. Ibadah puasa memang milik umat Muslim, tapi kebahagiaan berburu kolak, es pisang ijo, dan tahu isi adalah milik semua bangsa. Lucu rasanya melihat teman-teman non-Muslim yang justru "start" duluan jam 3 sore demi mengamankan stok takjil terbaik, sementara kita yang puasa masih lemas-lemasnya menahan dahaga.

Tapi kalau dipikir-pikir, bukankah ini bagian dari keindahan ibadah itu sendiri? Ramadhan mengajarkan kita untuk berbagi ruang dan kebahagiaan. Menahan lapar bukan cuma soal urusan perut, tapi soal bagaimana kita tetap bisa bersosialisasi dengan kepala dingin tanpa harus emosi saat antrean takjil diserobot orang lain. Di sinilah kesabaran kita benar-benar diuji, jauh melampaui sekadar menahan lapar dan haus.

Produktif di Tengah Mode "Low Battery"

Banyak orang bilang kalau puasa itu bikin lemas dan jadi alasan buat malas-malasan. Padahal, kalau kita mau jujur, tantangan terberat ibadah Ramadhan di zaman sekarang bukan lagi haus, tapi distraksi digital. Kita mungkin kuat nggak makan 14 jam, tapi apakah kita kuat nggak scroll TikTok atau Instagram selama satu jam saja saat sedang menunggu waktu berbuka?

Ibadah di bulan suci ini sebenarnya adalah momen "digital detox" yang paling ampuh kalau kita benar-benar niat. Daripada scrolling konten nggak jelas yang malah bikin haus (karena isinya video mukbang), lebih baik mengalihkan energi ke hal yang lebih bermakna. Membaca buku, merapikan diri, atau sekadar melakukan refleksi diri soal apa saja dosa-dosa kecil yang kita lakukan setahun ke belakang. Ramadhan adalah tombol "reset" untuk mental kita yang sudah semrawut dipukuli deadline dan drama kehidupan.

Bukber: Antara Silaturahmi dan Wacana Abadi

Jangan lupakan ritual Buka Bersama alias Bukber. Ini adalah fenomena unik yang seringkali lebih banyak "wacana" daripada realisasinya. Grup alumni SD, SMP, SMA, sampai mantan sekantor semuanya mendadak aktif merencanakan bukber. Ujung-ujungnya? Biasanya cuma jadi obrolan di chat tanpa tanggal yang pasti.

Tapi secara esensi, bukber itu bagian dari ibadah sosial. Memberi makan orang yang berpuasa pahalanya gede banget, lho. Walaupun ya, kadang kita harus berjuang menahan diri supaya nggak pamer pencapaian atau pamer outfit baru saat acara berlangsung. Ramadhan tetaplah Ramadhan, sebuah sekolah singkat untuk melatih ego agar tidak merasa paling hebat di antara yang lain.

Menuju Garis Finish

Menjelang akhir bulan, biasanya fokus kita mulai terpecah antara mengejar Lailatul Qadar atau mengejar diskon baju lebaran. Di sinilah ujian sesungguhnya. Apakah kita akan mengakhiri bulan ini dengan kualitas spiritual yang meningkat, atau sekadar berakhir dengan lingkar pinggang yang melebar karena "balas dendam" saat berbuka?

Pada akhirnya, ibadah Ramadhan bukan cuma soal ritual yang kaku. Ini adalah soal bagaimana kita menemukan kembali sisi kemanusiaan kita yang sering hilang ditelan kesibukan. Tentang belajar empati pada mereka yang lapar bukan karena berpuasa, tapi karena memang nggak punya makanan. Tentang belajar memaafkan diri sendiri dan orang lain sebelum hari kemenangan tiba.

Jadi, mumpung masih ada waktu, yuk kita nikmati sisa hari di bulan ini dengan lebih santai tapi tetap berisi. Nggak perlu terlalu ambisius jadi orang paling suci dalam semalam, cukup jadi versi diri kita yang lebih sabar, lebih peduli, dan syukur-syukur nggak gampang emosi saat melihat teman posting foto es sirup di siang bolong. Semangat puasa, semuanya!

Tags