Sabtu, 2 Mei 2026
Amandit FM
Hiburan

Sal Priadi: Penyair Panggung yang Bikin Kita Semua Merasa Sah-Sah Saja Menjadi Aneh

Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 15 March 2026 | 11:00 AM

Background
Sal Priadi: Penyair Panggung yang Bikin Kita Semua Merasa Sah-Sah Saja Menjadi Aneh
Sal Priadi (Instagram/Sal Priadi)

Kalau kita bicara soal kancah musik Indonesia hari ini, rasanya sulit untuk tidak menyebut satu nama yang belakangan ini seliweran terus di fyp TikTok atau playlist galau kita: Sal Priadi. Pria asal Malang ini bukan cuma sekadar penyanyi; dia itu seperti penyair yang nyasar di panggung musik, lalu memutuskan untuk menetap dan membuat semua orang jatuh cinta dengan keajaiban kata-katanya yang kadang-kadang terasa di luar nalar.

Jujur saja, pertama kali mendengar lagu-lagu Sal Priadi beberapa tahun lalu, mungkin banyak dari kita yang mengerutkan dahi. Liriknya tidak seperti lagu pop kebanyakan yang langsung ke intinya. Dia tidak cuma bilang "aku kangen kamu," tapi dia akan menceritakan bagaimana rindu itu bisa mengikat di tulang belikat atau bagaimana rasanya terbang ke angkasa. Sal punya bakat luar biasa untuk membuat hal-hal yang terdengar teknis atau aneh menjadi sangat romantis dan puitis. Itulah "Sal Priadi energy" yang bikin dia punya tempat spesial di hati para pendengarnya.

Dari "Ikat Aku di Tulang Belikat" Hingga Menjadi Mas-Mas yang Mengerti Duka

Perjalanan Sal di industri musik bisa dibilang sangat organik. Dia muncul dengan aura yang sangat teaterikal. Ingat tidak saat lagu "Ikat Aku di Tulang Belikat" rilis? Lagu itu seperti sebuah pernyataan bahwa ada musisi yang berani menggunakan diksi yang tidak lazim. Lalu muncul "Amin Paling Serius" bersama Nadin Amizah yang sampai sekarang masih jadi lagu wajib di kondangan atau saat sepasang kekasih merasa cinta mereka paling besar sedunia. Di sana, Sal menunjukkan bahwa dia adalah pendongeng yang hebat.

Namun, lonjakan yang benar-benar masif terjadi belakangan ini melalui album Markers and Such Pens Pens. Di album ini, Sal seolah melepaskan jubah "penyanyi puitis yang sulit digapai" menjadi sosok yang jauh lebih personal, hangat, dan bahkan jenaka. Dia bercerita tentang hal-hal sepele dalam hidup, seperti mengajak makan atau sekadar memuji kecantikan pasangannya. Tapi, jangan salah, di balik kesederhanaan itu, Sal tetap menyimpan magis yang sama.

Lagu "Gala Bunga Matahari" adalah bukti nyata bagaimana Sal Priadi bisa menyatukan satu negara dalam satu frekuensi duka yang sama. Lagu ini bukan cuma viral, tapi sudah jadi semacam lagu ritual bagi siapa pun yang sedang kehilangan orang tersayang. Sal berhasil memotret konsep kematian dan kehilangan tanpa harus terdengar menyeramkan atau terlalu berat. Dia membayangkannya sebagai bunga matahari yang mekar, sebagai tempat di mana tidak ada lagi sakit. Siapa sih yang tidak berkaca-kaca mendengar liriknya? Kalau kamu tidak tersentuh, mungkin kamu perlu cek ke dokter, siapa tahu hatimu sedang terbuat dari beton.

Gaya Menulis yang Tabrak Lari Tapi Berhasil

Salah satu alasan mengapa Sal Priadi terasa begitu "manusiawi" adalah keberaniannya menabrak aturan penulisan lirik yang kaku. Kadang dia menggunakan bahasa Indonesia yang sangat baku, hampir seperti sastra lama, tapi di kalimat berikutnya dia bisa sangat santai seperti sedang mengobrol di warung kopi. Variasi ini yang membuat lagunya tidak membosankan. Dia tidak takut terlihat norak atau terlalu sentimentil.

Lihat saja lagu-lagu di album terbarunya. Ada judul seperti "Mesra-mesraannya Kecil-kecilan Dulu". Judulnya saja sudah bikin kita senyum-senyum sendiri karena terasa sangat relatable bagi banyak orang yang sedang berjuang secara finansial atau waktu tapi tetap ingin romantis. Sal adalah raja dari segala sesuatu yang "subtil". Dia merayakan hal-hal kecil yang sering kita abaikan dalam hubungan. Dia mengingatkan kita bahwa cinta itu tidak selalu harus megah, tapi bisa juga hadir dalam bentuk doa yang pelan atau janji untuk makan enak besok siang.

Selain itu, kemampuan akting Sal juga ikut memperkuat persona musiknya. Penampilannya di film "Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas" membuktikan bahwa dia memang punya bakat artistik yang meluap-luap. Ekspresinya, cara dia bergerak di panggung yang seringkali terlihat seperti orang yang sedang kerasukan seni, semuanya adalah bagian dari paket lengkap seorang Sal Priadi. Dia tidak cuma menjual suara, dia menjual pengalaman emosional.

Kenapa Kita Butuh Lebih Banyak "Sal Priadi" di Playlist Kita?

Di tengah gempuran lagu-lagu pop yang formulanya seringkali itu-itu saja, kehadiran Sal Priadi adalah sebuah anugerah. Dia memberikan alternatif bahwa musik bagus tidak harus selalu mengikuti tren pasar yang sedang hype. Dia menciptakan pasarnya sendiri. Dia membuktikan bahwa pendengar musik Indonesia itu pintar dan bisa mengapresiasi karya yang punya kedalaman lirik.

Mendengarkan Sal Priadi itu seperti sedang duduk di taman saat sore hari, lalu tiba-tiba ada orang asing yang duduk di sebelahmu dan menceritakan rahasia hidup yang paling jujur. Kamu mungkin tidak kenal dia secara pribadi, tapi lewat lagunya, kamu merasa dia paling mengerti apa yang sedang kamu rasakan. Entah itu rasa syukur karena punya pasangan yang sabar, atau rasa hancur karena ditinggalkan.

Pada akhirnya, Sal Priadi adalah pengingat bahwa menjadi unik dan sedikit "aneh" itu sah-sah saja. Di dunia yang sering menuntut kita untuk tampil sempurna dan seragam, Sal datang dengan rambutnya yang kadang berantakan, gaya panggungnya yang teatrikal, dan lirik-liriknya yang ajaib untuk bilang bahwa "Eh, hidup itu emang begini, mari kita rayakan saja." Jadi, sudahkah kamu mendengarkan Gala Bunga Matahari hari ini? Jangan lupa siapkan tisu, karena kita semua tahu, Sal Priadi tidak pernah main-main soal urusan mengaduk-aduk perasaan.

Tags