Sesuatu Nadhif Basalamah: Arti Lirik tentang Cinta yang Menggantung dan Luka yang Tak Selesai
Hafizah Fikriah Waskan - Monday, 02 March 2026 | 05:41 PM


Masih di rilisan 2024, Nadhif Basalamah menghadirkan sisi yang lebih gelap lewat lagu Sesuatu. Jika sebelumnya ia banyak bercerita tentang harapan dan kehangatan, kali ini suasananya sendu. Lagu ini seperti monolog seseorang yang terjebak dalam hubungan tak pasti, penuh curiga, lelah, tetapi belum benar-benar bisa pergi.
Sejak awal, atmosfer sepi sudah terasa lewat lirik, "Perasaan ini sesuatu lagi, dering telfonku tak berbunyi senyap sunyi." Telepon yang tak berdering menjadi simbol penantian yang sia-sia. Ia menunggu kabar, perhatian, atau kepastian, tetapi yang datang hanya kesunyian. Kata "sesuatu" terdengar samar, seolah perasaan itu sulit dijelaskan, campuran antara cinta, takut, dan kecewa.
Lalu ada pengakuan jujur, "Lepaskanmu takut aku." Ia ingin melepas, tetapi ketakutan menahan. Di sinilah konflik batin muncul. Bagian "Sekarat tapi tak mati, hanya lelah dibohongi" menjadi metafora kuat. "Sekarat" menggambarkan kondisi emosional yang kritis, hampir habis, namun belum benar-benar selesai. Ia terluka, tetapi hubungan itu masih menggantung.
Kondisi mentalnya pun tergambar jelas dalam baris, "Kepala dikuasai amarah dan benci." Rasa marah bercampur dengan kebencian, bukan hanya pada pasangan, mungkin juga pada diri sendiri karena tetap bertahan. Namun di sisi lain, ia masih menyimpan "sendu, rindu dan cemasku." Perasaan negatif dan positif bercampur menjadi satu. Ironisnya, semua itu terasa "tak berarti sesuatu." Seolah pengorbanan dan emosinya tidak dihargai.
Pertanyaan paling menyakitkan hadir dalam lirik, "Adakah aku sedikit di hatimu." Ini adalah inti dari lagu ini. Bukan lagi soal marah atau kecewa, melainkan soal nilai diri. Ia mulai mempertanyakan apakah dirinya pernah benar-benar penting.
Menariknya, ada baris reflektif, "Curiga ku ini, harap tak sesali, yang ku takut hanya diriku sendiri." Di sini terlihat kedewasaan emosional. Ia sadar bahwa ketakutan terbesarnya mungkin bukan kehilangan orang lain, melainkan menghadapi dirinya sendiri. Mengakui bahwa ia bertahan dalam situasi yang melukai.
Pengulangan bagian "Sekarat tapi tak mati, hanya lelah dibohongi" di akhir lagu memperkuat rasa stagnan. Tidak ada resolusi yang jelas. Lagu ini memang tidak menawarkan jawaban, hanya menggambarkan kondisi seseorang yang terjebak di tengah ketidakpastian.
Secara keseluruhan, Sesuatu adalah potret cinta yang menggantung. Tentang hubungan yang tidak sepenuhnya hidup, tapi juga belum benar-benar mati. Lagu ini terasa seperti malam panjang yang dipenuhi pikiran berisik, pertanyaan tak terjawab, dan harapan kecil yang masih tersisa.
Next News

Jangan Asal Sabet, Ini Panduan Doa Menyembelih Hewan Kurban Biar Auto-Berkah
an hour ago

Niat Salat Idul Adha: Biar Ibadah Makin Mantap dan Nggak Cuma Ikut-ikutan
an hour ago

Bukan Cuma Sate, Ini Sunnah Pagi Iduladha yang Sering Terlupa
an hour ago

Hutan Tropis: Panggung Sandiwara Alam yang Lebih Seru dari Drakor
6 days ago

Polusi Jakarta Menggila? Saatnya Melirik Hutan Hujan Kita
8 days ago

Bosan Polusi Kota? Yuk Kenali Peran Penting Hutan Lebih Dalam
8 days ago

Selamat Datang di Era Gen Alfa: Saat Parenting Bukan Lagi Sekadar Kasih Makan dan Sekolah
12 days ago

Milenial, Gen Z, Hingga Gen Alpha: Dari Pejuang Wartel Sampai Pasukan iPad Kids
12 days ago

Gen Alfa: Si "iPad Kids" yang Bikin Guru dan Orang Tua Harus Putar Otak
12 days ago

Menjadi Bestie untuk Si Paling Digital: Seni Mengasuh Anak Gen Alfa Tanpa Bikin Darah Tinggi
13 days ago





