Rabu, 29 April 2026
Amandit FM
Hiburan

Siapa Saja Sih yang Berhak Makan Daging Kurban? Biar Nggak Bingung Pas Idul Adha!

Hafizah Fikriah Waskan - Thursday, 26 March 2026 | 04:00 PM

Background
Siapa Saja Sih yang Berhak Makan Daging Kurban? Biar Nggak Bingung Pas Idul Adha!
Ilustrasi (Freepik/Freepik)

Bayangkan suasana pagi setelah salat Idul Adha. Bau asap bakaran sate sudah mulai tercium dari gang-gang sempit, suara kambing yang mengembik bersahutan dengan bunyi pisau yang diasah, dan bapak-bapak komplek yang tiba-tiba jadi ahli anatomi hewan dadakan. Idul Adha emang punya vibe yang beda dibanding Idul Fitri. Kalau Idul Fitri itu soal maaf-maafan dan opor ayam rumah sendiri, Idul Adha itu soal keriuhan kolektif membagikan protein hewani ke seluruh penjuru mata angin.

Tapi, di balik keseruan itu, sering muncul pertanyaan yang bikin dahi berkerut di tengah antrean kupon: "Eh, si itu kan kaya, kok dapet daging juga?" atau "Gue yang kurban boleh ambil pahanya nggak sih buat stok di kulkas?" Nah, daripada kita terjebak dalam perdebatan nggak berujung pas lagi motong daging, mending kita bahas tuntas siapa saja sebenarnya yang punya "hak prerogatif" buat menerima jatah daging kurban ini. Tenang, pembahasannya bakal santai, nggak kaku kayak kerupuk masuk angin.

1. Si Sohibul Kurban (Si Empunya Hajat)

Pertama-tama, mari kita bahas sang tokoh utama: orang yang berkurban atau bahasa kerennya Sohibul Kurban. Banyak yang mengira kalau sudah menyerahkan kambing atau patungan sapi, si pemilik ini nggak boleh mencicipi dagingnya sama sekali. Padahal, ceritanya nggak begitu. Justru, si pembeli hewan kurban ini disunnahkan untuk ikut memakan sebagian dagingnya.

Logikanya sederhana, kurban itu bentuk syukur. Masa iya kita bersyukur tapi nggak ikut merasakan nikmatnya? Aturan mainnya biasanya adalah sepertiga bagian. Jadi, kalau kamu kurban satu kambing, kamu boleh ambil sekitar sepertiganya buat dimasak bareng keluarga di rumah. Tapi ingat ya, ini kalau kurbannya bersifat sunnah. Kalau kurbannya karena nazar (janji), misalnya "Kalau gue naik gaji, gue mau kurban", nah itu ceritanya beda lagi. Dalam kasus nazar, si pemilik nggak boleh makan dagingnya sama sekali. Semuanya harus dikasih ke orang lain. Jadi, jangan sampai salah kaprah ya, entar niatnya ibadah malah jadi ajang makan-makan doang.

2. Fakir Miskin: Prioritas Utama Tanpa Debat

Kalau ini sih sudah jelas banget ya. Fakir dan miskin adalah "VIP" dalam setiap momen Idul Adha. Tujuan utama dari ibadah kurban itu sebenarnya adalah aspek sosialnya, yaitu memastikan orang-orang yang jarang makan daging atau kesulitan memenuhi kebutuhan gizi bisa ikut pesta pora setahun sekali. Di titik ini, kita bicara soal empati.

Dalam pembagian secara teknis, kelompok ini juga mendapat jatah sepertiga bagian. Tapi, nggak sedikit juga ulama yang berpendapat kalau fakir miskin boleh dapat lebih dari sepertiga kalau memang jumlah mereka banyak di lingkungan tersebut. Intinya, mereka harus didahulukan. Jangan sampai panitia sibuk bungkusin daging buat teman-teman dekat, tapi warga di pinggiran yang benar-benar butuh malah cuma dapat "zonk" atau sisa-sisa jeroan doang. Itu mah namanya kurang asik.

3. Tetangga, Teman, dan Kerabat (Meski Mereka Mampu)

Nah, ini nih yang sering jadi bahan omongan di grup WhatsApp warga. "Lho, Pak Haji sebelah kan mobilnya dua, kok dapet kresek daging juga?" Di sinilah letak uniknya kurban. Jatah sepertiga terakhir itu diperuntukkan bagi teman, kerabat, atau tetangga sekitar, tanpa memandang mereka kaya atau miskin.

Kenapa orang kaya tetap boleh dikasih? Tujuannya adalah hadiah dan mempererat silaturahmi. Kurban itu nggak cuma soal mengenyangkan perut yang lapar, tapi juga soal mencairkan hubungan yang mungkin sempat kaku. Memberi daging ke tetangga yang berkecukupan itu simbol kasih sayang. Jadi, kalau kamu lihat tetangga kaya dapat daging, jangan langsung julid ya. Siapa tahu itu cara panitia atau si sohibul kurban buat bilang, "Yuk, kita akur-akur aja sebagai tetangga."

Gimana dengan Panitia? Boleh Ambil "Upah" Daging?

Ini masalah klasik yang sering banget kejadian di lapangan. Banyak panitia kurban yang merasa sudah capek dari pagi sampai sore menguliti hewan, lalu mereka merasa berhak mengambil bagian daging yang lebih banyak sebagai "upah" capek. Secara syariat, ini adalah area sensitif. Daging kurban itu nggak boleh dijadikan alat pembayaran atau upah bagi tukang jagal atau panitia.

Kalau panitianya orang mampu, mereka tetap boleh dapat jatah sebagai tetangga atau kerabat (seperti poin nomor tiga tadi). Kalau panitianya orang nggak mampu, mereka dapet jatah fakir miskin. Tapi intinya, porsinya harus adil dan nggak boleh dianggap sebagai bayaran jasa. Untuk upah jagal, sebaiknya diambilkan dari uang kas atau iuran warga, bukan dengan memotong porsi daging kurban yang seharusnya dibagikan. Mari kita hargai keringat mereka dengan cara yang benar, bukan dengan mengurangi hak orang lain.

Kesimpulan: Kurban Itu Soal Berbagi, Bukan Sekadar Makan Enak

Pada akhirnya, Idul Adha bukan cuma soal seberapa banyak daging yang bisa kita kumpulkan di dalam freezer. Ini adalah momen refleksi untuk menekan ego dan sifat serakah kita. Pembagian sepertiga-sepertiga itu adalah formula ideal biar semua orang—si kaya, si miskin, dan si pemilik—bisa merasakan kebahagiaan yang sama.

Jadi, kalau tahun ini kamu jadi panitia atau kebetulan berkurban, pastikan distribusi dagingnya tepat sasaran. Jangan sampai ada drama "pilih kasih" yang malah merusak pahala ibadah. Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momen untuk saling peduli, saling berbagi, dan tentu saja, saling bantu bakar sate biar asapnya nggak cuma lewat di depan hidung tetangga, tapi dagingnya juga mampir ke piring mereka. Selamat merayakan hari raya, jangan lupa perbanyak sayur ya biar kolesterol nggak langsung meloncat ke langit!

Tags