Sabtu, 7 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Sunyi yang Selalu Membawa Kamu Kembali – Masa Sepi dari Bernadya

Hafizah Fikriah Waskan - Thursday, 12 February 2026 | 08:28 PM

Background
Sunyi yang Selalu Membawa Kamu Kembali – Masa Sepi dari Bernadya
Bernadya - Masa Sepi (YouTube/Bernadya)

Di antara lagu-lagu Bernadya yang rilis pada 2023, Masa Sepi terasa seperti ruang hening yang tidak benar-benar kosong. Lagu ini berbicara tentang satu fase setelah kehilangan, ketika hari bisa saja ramai, tapi begitu semuanya tenang, satu nama kembali muncul tanpa diminta.

Kalimat pembuka, "Namamu belum juga pergi dari hati", langsung menegaskan bahwa perpisahan tidak otomatis menghapus rasa. Hati di sini digambarkan seperti ruang yang masih ditempati. Secara makna, ia belum benar-benar melepas. Lalu ada baris "Rintik kembali membasahi pipi". Rintik bukan sekadar hujan, tapi simbol air mata yang datang berulang. Artinya, setiap masa sepi tiba, tangis ikut menyertainya karena "bayangmu masih di sini". Yang menetap bukan sosoknya, melainkan memorinya.

Bagian "Kukira hanya sekali ku dihantui kenangan indah memori" menunjukkan harapan semu. Ia sempat mengira kenangan itu hanya akan datang sesekali. Namun kata "dihantui" mengubah maknanya. Kenangan tidak hadir sebagai nostalgia manis, tapi sebagai sesuatu yang mengganggu dan tak bisa dihindari. Ditambah dengan "Luka yang kaugores membekas abadi", luka itu tidak digambarkan sebagai luka biasa, melainkan bekas permanen yang membentuk dirinya sekarang.

Lirik "Dulu kukira ku akan kuat, kini aku hilang akal sehat" adalah pengakuan paling jujur. Ia pernah yakin bisa tegar. Tapi kenyataannya, pikirannya terus kembali pada orang yang sama. Hilang akal sehat di sini bukan berarti gila, melainkan tidak lagi rasional dalam mengelola rindu. Ia sadar dirinya masih terjebak.

Menariknya, ada bagian ketika ia merasa sudah membaik: "Sejenak kukira sudah tak mungkin lagi kau terlintas, hariku yang tak ada jeda." Kesibukan sempat membuatnya merasa sembuh. Aktivitas yang padat menjadi distraksi. Namun ketika "semua reda", yang datang di kepala tetap orang itu juga. Maknanya jelas, sibuk hanya menunda rasa sepi, bukan menghapusnya.

Reff "Kau 'kan selalu jadi yang kutunggu sampai nanti, saat masa sepi tak lagi mau menghampiri" menyiratkan penantian yang menggantung. Ia tidak menyebut kapan berhenti menunggu. Selama kesepian masih datang, selama itu pula nama itu tetap tinggal. Masa sepi menjadi semacam siklus: sunyi menghadirkan kenangan, kenangan menghadirkan harapan.

Masa Sepi pada akhirnya bukan hanya lagu tentang rindu, tapi tentang bagaimana kesunyian memperbesar apa yang belum selesai di hati. Bernadya menggambarkan bahwa yang paling sulit dari kehilangan bukan saat ramai, melainkan saat malam tenang dan pikiran tidak punya tempat lain untuk pergi selain kembali pada kenangan yang sama.