The 1975: Antara Jenius Musik, Estetika Tumblr, dan Drama Matty Healy yang Gak Ada Habisnya
Hafizah Fikriah Waskan - Monday, 16 March 2026 | 12:00 AM


Kalau kita bicara soal band yang paling jago bikin perasaan pendengarnya campur aduk di dekade ini, nama The 1975 pasti nangkring di urutan teratas. Band asal Manchester ini bukan cuma sekadar grup musik; mereka itu fenomena budaya, bahan perdebatan di Twitter (sekarang X), dan mungkin alasan kenapa rak baju kalian sempat dipenuhi kaos hitam-putih di tahun 2014. Membahas The 1975 itu ibarat membicarakan mantan yang toxic tapi tetap bikin kangen: kita benci kelakuannya, tapi lagu-lagunya selalu ada di daftar top tracks Spotify kita tiap tahun.
Gak bisa dimungkiri, motor utama dari kegilaan ini adalah sang frontman, Matty Healy. Sosok yang satu ini memang definisi nyata dari "Love him or hate him." Kadang dia terlihat seperti filsuf modern yang sedang mempertanyakan eksistensi manusia lewat lirik lagu, tapi di saat lain dia bisa jadi cowok paling menyebalkan yang makan steak mentah di atas panggung atau mencium kru kamera secara acak. Namun, di balik segala gimik dan kontroversinya, ada satu hal yang absolut: The 1975 tahu betul cara membuat musik yang enak didengar dan punya karakter yang kuat.
Perjalanan Estetika: Dari Hitam-Putih ke Era Warna-Warni
Ingat tidak zaman-zaman 2013? Waktu itu, kalau kalian buka Tumblr, feed kalian pasti penuh dengan foto kotak hitam bertuliskan "The 1975" dengan font neon yang ikonik. Album debut mereka yang self-titled itu benar-benar mengubah cara anak muda mengonsumsi musik indie-pop. Lagu seperti "Chocolate" dan "Sex" punya energi remaja yang meledak-ledak, dibalut dengan sound gitar yang clean dan sangat radio-friendly. Di era ini, mereka adalah raja dari estetika minimalis yang bikin semua orang pengen pakai leather jacket meskipun cuaca Jakarta lagi panas-panasnya.
Tapi Matty, Adam, Ross, dan George bukan tipe musisi yang betah diam di satu zona nyaman. Memasuki album kedua dengan judul super panjang yang bikin lidah kesrimpet—I Like It When You Sleep, for You Are So Beautiful yet So Unaware of It—mereka membanting setir ke arah pop 80-an yang penuh synth dan warna pink. Di sinilah mereka mulai menunjukkan sisi "pintar" mereka. Mereka nggak cuma bikin lagu cinta menye-menye, tapi mulai menyentil soal adiksi, kesehatan mental, hingga obsesi orang terhadap media sosial melalui lagu "Love Me".
Evolusi ini terus berlanjut sampai ke album Notes on a Conditional Form yang durasinya sepanjang jalan tol, hingga akhirnya kembali ke bentuk yang lebih "matang" lewat album Being Funny in a Foreign Language. Lewat tangan dingin produser Jack Antonoff, The 1975 seolah-olah sedang bilang, "Oke, drama kita cukup di belakang layar saja, sekarang ayo dengerin betapa jagonya kami bikin lagu pop yang elegan."
Lirik yang Seperti Curhatan di Notes HP
Salah satu alasan kenapa fans The 1975 itu loyal banget (dan seringkali defensif) adalah cara Matty Healy menulis lirik. Dia punya kemampuan langka buat bikin hal yang sangat personal terasa sangat universal. Dia bisa ngomongin soal kegagalan cinta dengan cara yang paling satir, atau ngomongin soal agama dan politik tanpa terdengar seperti ceramah guru PKN yang membosankan.
Coba dengerin "Somebody Else". Itu adalah lagu kebangsaan bagi siapa pun yang pernah patah hati tapi gengsi buat ngakuin. Atau "Love It If We Made It" yang merangkum segala kekacauan dunia modern hanya dalam beberapa bait lirik yang padat. Matty menulis lirik seperti dia lagi ngetik di Notes HP jam 3 pagi pas lagi mabuk atau lagi krisis identitas. Berantakan, jujur, tapi entah kenapa sangat puitis di saat yang bersamaan. Ini yang bikin pendengarnya merasa, "Gila, ini gue banget!"
Kontroversi: Bumbu yang Kadang Terlalu Pedas
Nah, sekarang kita harus bahas gajah di dalam ruangan: tingkah laku Matty Healy. Kita semua tahu apa yang terjadi di Malaysia beberapa waktu lalu yang berujung pada batalnya penampilan mereka di Jakarta. Jujurly, itu adalah momen yang bikin fans di Indonesia patah hati se-patah-hatinya. Di satu sisi, banyak yang mendukung pesan yang ingin disampaikan, tapi di sisi lain, caranya dianggap tidak menghargai budaya lokal dan malah merugikan banyak pihak, termasuk musisi lokal dan promotor.
Ini memang dilema kalau jadi fans The 1975. Kalian harus siap mental kalau idola kalian tiba-tiba bikin ulah di podcast atau melakukan hal aneh di media sosial. Matty itu ibarat bumbu penyedap; kalau pas takarannya, dia bikin musik band ini jadi gurih banget. Tapi kalau kebanyakan atau salah tempat, ya bikin enek juga. Namun, mungkin itulah esensi dari seorang rockstar di era digital. Mereka nggak harus sempurna, mereka cuma harus tetap menarik untuk dibicarakan.
Kenapa Mereka Tetap Penting di Industri Musik?
Di tengah gempuran musik yang makin seragam karena algoritma TikTok, The 1975 tetap berani jadi band yang "aneh". Mereka nggak takut memasukkan elemen jazz, ambient, folk, sampai punk dalam satu album yang sama. Mereka adalah band yang sangat sadar akan sejarah musik, tapi tetap fokus menatap masa depan.
Melihat performa panggung mereka, kita bisa melihat betapa seriusnya mereka dalam hal presentasi visual. Desain panggung yang teatrikal, lighting yang sinkron sempurna, sampai akting Matty yang kadang absurd, semuanya adalah bagian dari satu paket hiburan yang komplit. Mereka bukan sekadar orang-orang yang berdiri di depan stand mic dan main instrumen; mereka sedang menceritakan sebuah narasi besar tentang bagaimana rasanya hidup di abad ke-21.
Kesimpulannya, suka atau tidak, The 1975 adalah salah satu band paling berpengaruh di generasi ini. Mereka berhasil menangkap kegelisahan, kesedihan, dan keriangan kita dalam bentuk audio yang sangat estetik. Jadi, kalau kalian melihat ada orang yang masih dengerin "Robbers" sambil galau di pojokan kafe, atau ada yang marah-marah di Twitter gara-gara kelakuan Matty, maklumi saja. Itulah cara terbaik untuk menikmati The 1975: terima musiknya yang jenius, dan tertawakan dramanya yang kadang di luar nalar.
Pada akhirnya, musik adalah soal rasa. Dan The 1975 punya rasa yang sangat kuat, meski kadang meninggalkan aftertaste yang agak pahit. Tapi hey, bukankah hidup memang seringkali seperti itu?
Next News

Hearts2Hearts: Ketika Ngobrol Bukan Cuma Basa-basi, Tapi Urusan Hati ke Hati
in 6 hours

Katy Perry: Dari Ratu Candy-Pop Hingga Perjuangan Rebut Kembali Takhta di Era Gempuran Gen Z
in 4 hours

Louis Tomlinson: Si Underdog yang Akhirnya Menemukan Rumah di Jalur Indie-Rock
in 3 hours

Evolusi Ariana Grande: Dari Kuncir Kuda Ikonik Hingga Jadi Diva yang Nggak Ada Lawan
in 2 hours

Mike Posner: Dari Gemerlap Ibiza Hingga Menemukan Diri di Jalur Setapak Amerika
in an hour

Menilik Fenomena Fourtwnty: Lebih dari Sekadar Kopi, Senja, dan Kaki Telanjang
in 20 minutes

Nadin Amizah: Antara Dongeng, Patah Hati, dan Keberanian Menjadi Berisik
40 minutes ago

Menakar Fenomena Hindia: Antara Suara Generasi Cemas dan Mesin Hits yang Tak Pernah Berhenti
2 hours ago

Marshall Mathers aka Eminem: Si Slim Shady yang Gak Ada Matinya dan Tetap Relevan Lewat Rima
3 hours ago

Juicy Luicy: Band Penawar Rindu dan Spesialis Luka yang Nggak Pernah Gagal Bikin Ambyar
4 hours ago





