Bukan Cuma Gajah Ini Alasan Wajib ke Way Kambas Lampung
Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 15 February 2026 | 12:00 PM


Menengok Way Kambas: Bukan Cuma Soal Gajah Joget, Tapi Tentang Cinta dan Prahara di Ujung Lampung
Kalau kita bicara soal Lampung, biasanya pikiran orang langsung lari ke dua hal: kopi yang nendang atau pisang goreng yang manisnya nggak karuan. Tapi, ada satu nama yang selalu nangkring di buku pelajaran SD sampai brosur wisata internasional, yaitu Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Sebagian dari kita mungkin cuma tahu kalau ini tempat gajah-gajah sekolah. Padahal, kalau kamu mau sedikit blusukan ke dalamnya, Way Kambas itu jauh lebih kompleks dari sekadar atraksi gajah main bola.
Way Kambas bukan cuma sekumpulan pohon dan semak belukar yang dipagari. Kawasan yang luasnya mencapai 125 ribu hektare ini adalah benteng terakhir bagi banyak nyawa yang hampir punah. Vibes-nya itu lho, antara magis dan sedikit melankolis. Pas pertama kali masuk, udara lembap khas hutan hujan tropis bakal langsung nyapa paru-paru. Bukan tipe udara polusi Jakarta yang bikin sesak, tapi aroma tanah basah dan daun busuk yang entah kenapa malah bikin tenang.
Ngomongin soal Way Kambas, kita nggak bisa lepas dari Pusat Latihan Gajah (PLG). Dulu, tempat ini emang terkenal banget sama gajah-gajah yang pinter atraksi. Tapi ya, zaman berubah, cuy. Sekarang trennya udah bergeser ke arah edukasi dan konservasi yang lebih etis. Kita nggak lagi cuma nonton gajah joget, tapi lebih ke melihat gimana interaksi antara mahout—sebutan buat perawat gajah—dengan anak asuhnya. Hubungan mereka itu udah kayak bromance level dewa. Bayangin aja, para mahout ini harus paham mood gajah yang kalau lagi bete bisa lebih serem daripada gebetan yang lagi PMS.
Tapi jujur ya, Way Kambas itu sebenarnya punya "selebriti" lain yang lebih pemalu daripada gajah, yaitu Badak Sumatera. Kalau gajah masih sering kelihatan seliweran, Badak Sumatera ini kayak sosok misterius yang cuma bisa dilihat lewat kamera trap atau kalau kamu beruntung banget masuk ke Sumatran Rhino Sanctuary (SRS). Badak ini adalah spesies badak terkecil di dunia dan populasinya udah di tahap yang bikin jantungan para aktivis lingkungan. Mengelola SRS itu bukan kaleng-kaleng, biayanya mahal dan dedikasinya harus totalitas tanpa batas.
Namun, di balik keindahan dan status "paru-paru dunia" ini, ada drama yang sering nggak terkespos media mainstream. Apalagi kalau bukan konflik antara manusia dan satwa. Kadang, gajah-gajah ini "main" ke ladang warga sekitar karena jalur migrasi mereka udah keganggu atau emang stok makanan di hutan lagi seret. Di sinilah seninya. Penduduk lokal harus belajar hidup berdampingan dengan raksasa-raksasa ini. Nggak jarang warga harus begadang buat jaga ladang, tapi mereka juga nggak mau nyakitin gajahnya. Sebuah dilema yang nggak bakal kamu temuin di mal-mal Jakarta.
Buat kamu yang pengen main ke sini, saranku sih jangan cuma jadi turis yang datang, foto, upload, terus pulang. Cobalah buat ngobrol sama orang-orang di sana. Dengerin cerita mereka tentang gimana rasanya dikejar gajah atau gimana sedihnya pas ada gajah yang mati kena jerat pemburu. Way Kambas itu saksi bisu betapa susahnya menjaga keseimbangan alam di tengah nafsu manusia yang kadang nggak ada habisnya buat ngerusak lahan.
Secara visual, Way Kambas itu estetik banget buat yang suka fotografi alam liar. Padang rumputnya—yang sering disebut sebagai savana—terasa kayak di Afrika tapi versi lebih hijau dan basah. Kalau kamu beruntung, pas sore hari kamu bisa liat kawanan burung migran yang mampir. Burung-burung ini kayak lagi transit di bandara, tapi bandaranya adalah dahan pohon yang rindang. Suaranya? Wah, jauh lebih enak didenger daripada suara klakson ojek online pas macet.
Satu hal yang perlu diinget, akses ke Way Kambas itu emang agak butuh perjuangan. Jalanannya mungkin nggak selalu mulus kayak pipi oppa Korea di drakor. Tapi justru di situ letak seninya. Perjalanan berjam-jam dari Bandar Lampung itu adalah proses "pemanasan" sebelum kamu benar-benar ketemu sama alam yang jujur apa adanya. Jangan lupa bawa lotion anti-nyamuk kalau nggak mau pulang-pulang badan penuh bentol yang udah kayak peta buta.
Way Kambas adalah pengingat buat kita semua kalau bumi ini nggak cuma milik manusia yang hobi scroll TikTok. Ada makhluk lain yang butuh ruang, yang butuh privasi, dan yang punya hak buat hidup tanpa rasa takut kena peluru pemburu. Kalau kita nggak peduli, bisa jadi anak cucu kita nanti cuma bisa liat gajah dan badak lewat layar VR atau buku sejarah yang udah mulai usang.
Jadi, kapan terakhir kali kamu peduli sama sesuatu yang lebih besar dari dirimu sendiri? Mungkin main ke Way Kambas bisa jadi awal yang bagus buat mulai menghargai alam. Tapi ingat, bawa pulang sampahmu, jangan bawa pulang tanaman atau hewan di sana. Biarkan Way Kambas tetap jadi rumah yang aman bagi mereka yang bersembunyi di balik rimbunnya hutan Lampung.
Next News

Bahlil Nilai Batas BBM Subsidi 50 Liter per Hari Wajar, Singgung Pengalaman Jadi Sopir Angkot
13 days ago

Ramai Isu BBM Naik 1 April, Ini Penjelasan Terbaru dari Pusat
14 days ago

UTBK Is Coming: Checklist Amunisi Biar Nggak Panik di Hari-H
13 days ago

Punya 7.000 Triliun, Elon Musk Bisa Beli Apa Saja di Dunia Ini?
21 days ago

Otto Toto Sugiri: Kisah "Bill Gates Indonesia" yang Hartanya Bikin Geleng-Geleng Kepala
21 days ago

164 Triliun dan Kisah di Balik Senyum Tahir: Lebih dari Sekadar Angka di Rekening
21 days ago

Mengenal Michael Hartono: Triliuner yang Hobi Main Kartu dan Jajan di Pinggir Jalan
21 days ago

Seberapa Kaya Robert Budi Hartono? Intip Fakta Kekayaannya di Sini
21 days ago

Mengenal Low Tuck Kwong: Sang Raja Batubara yang Bikin Kita Merasa Miskin Berjamaah
21 days ago

Kaesang Pangarep: Dari Tukang Pisang, Raja Meme, Hingga Jadi Kapten Politik Dadakan
a month ago





