Minggu, 15 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Jeremy Zucker: Manifestasi Galau Estetik yang Bikin Kita Ngerasa Nggak Sendirian

Hafizah Fikriah Waskan - Monday, 16 March 2026 | 02:00 AM

Background
Jeremy Zucker: Manifestasi Galau Estetik yang Bikin Kita Ngerasa Nggak Sendirian
Jeremy Zucker (Instagram/Jeremy Zucker)

Pernah nggak sih kalian ngerasa lagi di titik jenuh banget, rebahan di kamar pas hujan, terus butuh lagu yang kayaknya ngerti banget isi hati tanpa harus nge-judge? Kalau iya, kemungkinan besar nama Jeremy Zucker udah nangkring manis di playlist Spotify kalian. Cowok kelahiran New Jersey ini bukan cuma sekadar penyanyi "bedroom pop" yang kebetulan viral. Dia itu semacam representasi suara hati anak muda zaman sekarang yang sering merasa cemas, kesepian, tapi tetap pengen kelihatan estetik di media sosial.

Lagu-lagu Jeremy itu ibarat segelas kopi susu di sore hari—hangat, agak pahit dikit, tapi bikin nagih. Lewat hits kayak "comethru" atau "all the kids are depressed", dia berhasil nembus dinding pertahanan pendengar global. Tapi pertanyaannya, kok bisa cowok yang dulunya cuma mahasiswa jurusan Biologi ini jadi ikon kegalauan internasional? Mari kita bedah pelan-pelan sambil santai.

Dari Lab Biologi ke Studio Rekaman di Kamar

Jujur aja, latar belakang Jeremy itu lumayan unik buat ukuran musisi pop. Dia itu lulusan Molecular Biology dari Colorado College. Bayangin, harusnya dia mungkin sekarang lagi sibuk di laboratorium, pakai jas putih, dan nanganin mikroskop. Tapi ternyata, panggilan jiwanya lebih kuat ke arah mixing audio dan nulis lirik curhat daripada ngebahas struktur DNA. Keputusannya buat serius di musik setelah lulus kuliah terbukti jadi langkah paling benar yang pernah dia ambil.

Jeremy tumbuh di lingkungan yang cukup mendukung sisi kreatifnya. Dia mulai bikin musik sendiri di kamar—bener-bener definisi "bedroom pop" dalam arti harafiah. Dia nggak butuh studio mewah dengan budget miliaran buat mulai kariernya. Cukup laptop, software musik, dan kejujuran dalam liriknya. Gaya DIY (Do It Yourself) inilah yang bikin musiknya terasa sangat intim. Pas kita dengerin lagunya, rasanya kayak Jeremy lagi duduk di samping kita, curhat soal masalah hidupnya, terus kita cuma bisa bilang, "Eh, sumpah, gue juga ngerasa gitu."

Kenapa Lagu-lagunya Selalu Kena di Hati?

Salah satu kekuatan utama Jeremy Zucker adalah kemampuannya buat nangkep perasaan yang susah dijelasin pakai kata-kata biasa. Ambil contoh lagu "all the kids are depressed". Judulnya mungkin kedengaran frontal banget, tapi video musik dan liriknya itu sangat manusiawi. Dia nggak berusaha buat ngeromantisasi depresi, tapi dia validasi perasaan itu. Dia seolah bilang kalau nggak apa-apa kalau kita lagi nggak baik-baik aja.

Vokalnya Jeremy itu nggak yang tipe power ballad ala penyanyi opera. Suaranya lembut, sering kali pakai teknik whispering atau falsetto yang tipis-tipis, tapi justru di situ seninya. Ditambah lagi dengan produksi musiknya yang minimalis tapi berkelas. Penggunaan sound ambient, petikan gitar yang simpel, dan beat yang nggak berisik bikin pendengar bisa fokus ke ceritanya. Ini bukan tipe lagu yang bakal kalian dengerin pas lagi party gila-gilaan, tapi ini lagu yang bakal kalian putar berulang kali pas lagi butuh ketenangan.

Lalu ada aspek "relatability". Jeremy sering banget nulis soal rasa takut akan masa depan, kebingungan dalam hubungan, sampai rasa kangen yang nggak tersampaikan. Dia nggak jualan kemewahan atau gaya hidup rockstar. Dia tetap jadi Jeremy yang pakai hoodie, rambut agak berantakan, dan kelihatan kayak cowok indie yang bisa kalian temuin di coffee shop lokal mana pun. Kesederhanaan inilah yang bikin fans ngerasa punya koneksi personal sama dia.

Kolaborasi Maut dengan Chelsea Cutler

Nggak afdol kalau ngomongin Jeremy Zucker tanpa nyebut nama Chelsea Cutler. Hubungan mereka itu udah kayak simbiosis mutualisme paling keren di industri musik pop saat ini. Kolaborasi mereka di EP "brent" dan "brent ii" itu bener-bener masterpiece. Chemistry mereka tuh nggak main-main. Suara mereka berdua kalau digabungin itu kayak mentega ketemu roti hangat—pas banget.

Lagu "you were good to me" adalah salah satu bukti nyata gimana kolaborasi ini bisa bikin jutaan orang baper masal. Liriknya simpel tapi nusuk banget ke ulu hati. Mereka berdua punya cara unik buat mengeksplorasi patah hati tanpa harus kedengaran cengeng. Alih-alih marah-marah sama mantan, mereka lebih milih buat berterima kasih atas kenangan yang pernah ada. Dewasa banget, kan?

Lewat proyek "brent" ini, Jeremy nunjukin kalau dia itu musisi yang kolaboratif. Dia nggak egois buat nunjukin skill-nya sendirian. Dia tahu kapan harus menonjol dan kapan harus ngasih ruang buat partner-nya. Kerja sama mereka ini juga nunjukin kalau persahabatan antara cowok dan cewek itu bisa menghasilkan karya seni yang luar biasa tanpa harus selalu berakhir jadi drama percintaan di kehidupan nyata (meskipun fans sering banget nge-ship mereka).

Vibe yang Tetap Relevan di Era TikTok

Kita tahu sendiri sekarang dunia musik udah berubah gara-gara TikTok. Lagu-lagu harus punya "hook" yang enak buat dijadiin latar video 15 detik. Jeremy Zucker, secara sadar atau nggak, punya banyak lagu yang "TikTok-able" banget. Potongan lagu "comethru" sempat jadi anthem global di platform tersebut. Tapi hebatnya, Jeremy nggak terjebak jadi "one-hit wonder" TikTok doang. Dia punya kedalaman karya yang bikin orang tetap mau dengerin satu album penuh, bukan cuma potongan reff-nya doang.

Dia juga pinter banget jaga branding visualnya. Estetika fotonya di Instagram, tone warna di video klipnya, semuanya konsisten. Vibe-nya itu "sad-boy-but-make-it-fashion". Dia berhasil bikin kegalauan jadi sesuatu yang kelihatan keren dan bisa diterima secara sosial. Dulu mungkin orang malu ngaku kalau lagi sedih atau kesepian, tapi berkat musisi kayak Jeremy, membicarakan kesehatan mental lewat musik jadi sesuatu yang lebih normal dan terbuka.

Opini pribadi gue sih, Jeremy Zucker itu penting buat ekosistem musik saat ini karena dia ngingetin kita buat "slow down". Di tengah dunia yang serba cepet dan berisik, musik Jeremy itu kayak ruang jeda. Dia nggak maksa kita buat joget atau semangat 45. Dia cuma ngajak kita buat duduk sebentar, narik napas, dan ngerasain apa yang emang perlu dirasain.

Kesimpulan: Jeremy Zucker Bukan Sekadar Tren

Pada akhirnya, Jeremy Zucker udah ngebuktiin kalau dia punya umur panjang di industri musik. Dia terus berevolusi, nyoba suara baru, tapi tetap mempertahankan akar kejujurannya. Dari kamar kosannya di New Jersey sampai panggung-panggung besar di seluruh dunia, Jeremy tetaplah sosok yang sama—cowok yang berani jujur sama perasaannya sendiri dan akhirnya ngebantu kita buat jujur sama perasaan kita juga.

Jadi, buat kalian yang lagi ngerasa hidup lagi berat-beratnya, atau lagi bingung mau dibawa ke mana arah hubungan sama si dia, coba dengerin diskografi Jeremy Zucker dari awal. Mungkin kalian nggak bakal nemuin jawaban instan, tapi paling nggak, kalian bakal sadar kalau kalian nggak sendirian dalam kegalauan itu. Dan kadang, ngerasa nggak sendirian itu udah lebih dari cukup buat bikin hari kita sedikit lebih baik.

Tags