Sabtu, 7 Maret 2026
Amandit FM
Hiburan

Kenapa Es Campur Terlihat Lebih Menarik Saat Jam 3 Sore?

Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 24 February 2026 | 02:00 PM

Background
Kenapa Es Campur Terlihat Lebih Menarik Saat Jam 3 Sore?
Godaan es disiang hari (Pexels.com/Burst)

Seni Menjinakkan Monster dalam Diri: Kenapa Menahan Nafsu Pas Puasa Itu Lebih Berat dari Sekadar Nahan Laper?

Bayangkan skenario ini: Jam menunjukkan pukul tiga sore. Matahari di luar lagi lucu-lucunya, alias panasnya minta ampun sampai aspal rasanya bisa dipakai buat goreng telur. Perut sudah mulai memainkan simfoni keroncongan yang cukup merdu, dan tenggorokan rasanya sudah sekering gurun Sahara. Di momen krusial itu, tiba-tiba algoritma TikTok atau Instagram dengan teganya memunculkan video es campur yang sirup merahnya meleleh pelan di sela-sela es serut, lengkap dengan potongan buah nangka yang kinclong. Jujurly, pada titik ini, godaan buat "khilaf" itu jauh lebih besar daripada godaan buat balikan sama mantan.

Tapi tunggu dulu. Kalau kita bicara soal puasa, mayoritas dari kita pasti langsung kepikiran soal menahan lapar dan dahaga. Padahal, kalau mau jujur-jujuran, nahan laper itu urusan teknis yang paling gampang. Tinggal tidur atau main game, waktu bakal lewat. Masalah sebenarnya bukan di perut, tapi di kepala dan hati. Ya, kita bicara soal nafsu. Dan nafsu di zaman sekarang itu bentuknya sudah bertransformasi jadi monster yang jauh lebih licin dan susah dijinakkan daripada sekadar keinginan buat makan bakso di siang bolong.

Nafsu Bukan Cuma Urusan Perut dan Bawah Perut

Seringkali kalau kita dengar kata "nafsu", pikiran orang Indonesia langsung lari ke hal-hal yang berbau sensual atau urusan ranjang. Padahal, nafsu (atau al-hawa) itu spektrumnya luas banget. Nafsu adalah dorongan alami manusia untuk memuaskan keinginan instan tanpa mikir panjang. Di bulan Ramadan, kita dipaksa buat menekan tombol "pause" pada semua keinginan instan itu. Masalahnya, kita hidup di era instant gratification, di mana segala sesuatu cuma sejarak satu klik.

Nafsu belanja, misalnya. Lagi puasa begini, entah kenapa godaan flash sale di e-commerce terasa dua kali lipat lebih menggiurkan. Kita merasa karena sudah "menderita" nahan lapar seharian, kita berhak "self-reward" dengan beli barang yang sebenarnya nggak butuh-butuh amat. Ujung-ujungnya? Tabungan tiris, pahala puasa pun rasanya cuma lewat doang karena kita masih terjebak dalam sifat konsumtif yang ugal-ugalan.

Ujian Jempol dan Lambe Turah

Nah, ini dia musuh terbesar milenial dan Gen Z saat puasa: Nafsu buat ghibah alias bergosip. Menahan diri buat nggak makan itu gampang, tapi menahan diri buat nggak ikutan komentar di akun gosip atau nggak julid di grup WhatsApp keluarga? Itu levelnya sudah nightmare mode. Ada semacam kepuasan aneh saat kita berhasil "menghakimi" hidup orang lain sambil nunggu adzan Maghrib.

Padahal, esensi puasa itu kan buat melatih kendali diri. Apa gunanya perut kosong kalau jari-jari kita masih sibuk ngetik kalimat pedas yang bikin hati orang lain panas? Ini yang sering kita lupakan. Puasa itu detoks, bukan cuma buat usus, tapi juga buat lisan dan jempol. Kalau kata orang tua zaman dulu, "Puasanya sah, tapi pahalanya menguap." Sayang banget, kan? Sudah lemas, haus, eh nggak dapet apa-apa selain rasa lapar doang.

Drama "War Takjil" dan Lapar Mata

Mari kita bicara soal fenomena yang lagi viral: War Takjil. Secara narasi memang seru dan lucu melihat keberagaman kita bersatu demi gorengan. Tapi kalau dilihat dari sisi menahan nafsu, momen ngabuburit adalah ujian final yang sesungguhnya. Pernah nggak kamu merasa pas lagi lapar-laparnya sebelum buka, kamu pengen beli semua makanan yang ada di pinggir jalan? Kolak dibeli, gorengan lima ribu dapet sepuluh dibungkus, es buah satu plastik gede, belum lagi mie glosor atau batagor.

Pas adzan berkumandang, baru minum air putih segelas dan makan kurma tiga biji, eh, perut sudah berasa penuh. Akhirnya apa? Makanan yang dibeli tadi cuma dipandangin doang, atau lebih parah lagi, dibuang karena sudah nggak selera. Inilah definisi nyata dari "lapar mata". Nafsu kita mengelabui otak seolah-olah kita adalah raksasa yang bisa melahap segalanya, padahal kapasitas lambung kita ya segitu-gitu aja. Belajar menahan diri buat nggak borong takjil itu adalah latihan pengendalian emosi yang sangat hakiki.

Emosi di Jalanan: Ujian Kesabaran Menjelang Buka

Satu lagi manifestasi nafsu yang sering luput dari perhatian: Nafsu buat marah. Coba deh perhatikan jalanan satu jam sebelum buka puasa. Vibes-nya itu kayak arena balap Mad Max. Semua orang merasa punya urusan paling mendesak, semua orang ingin cepat sampai rumah, dan semua orang sumbunya jadi pendek banget. Disenggol dikit langsung klakson panjang, dipotong jalannya sedikit langsung keluar kata-kata mutiara.

Menahan nafsu marah saat macet dan perut lagi kosong itu adalah bentuk jihad yang nyata buat kaum urban. Di sini puasa benar-benar menguji apakah kita yang mengendalikan keadaan, atau keadaan yang mengendalikan kita. Kalau kita masih gampang terpancing emosi cuma gara-gara urusan sepele di jalanan, berarti puasa kita baru sebatas pindah jam makan, belum sampai ke tahap mendidik jiwa.

Kesimpulan: Puasa Sebagai Gym Untuk Mental

Jadi, menahan nafsu itu sebenarnya bukan soal mematikan keinginan kita sebagai manusia. Kita bukan robot, kita punya keinginan, dan itu manusiawi. Puasa itu ibarat masuk ke "gym" untuk mental dan spiritual kita. Kita lagi melatih otot kesabaran, otot empati, dan otot kontrol diri agar nggak gampang "disetir" oleh keinginan-keinginan sesaat.

Memang berat, apalagi godaan di zaman sekarang itu nggak main-main. Tapi di situlah letak seninya. Pas kita berhasil melewati satu hari tanpa marah-marah, tanpa ghibah, dan tanpa belanja barang nggak jelas meskipun diskonnya gede, ada rasa puas yang beda di hati. Rasa puas karena kita sadar bahwa kita adalah tuan atas diri kita sendiri, bukan budak dari keinginan kita sendiri.

Semangat buat sisa hari puasanya ya! Inget, musuh terberatmu bukan tukang gorengan yang baunya sampai ke kamar, tapi dirimu sendiri yang seringkali pengennya menang sendiri. Mari kita nikmati proses "menjinakkan monster" ini dengan santai, sambil terus belajar jadi manusia yang lebih berkualitas dari hari ke hari. Selamat berjuang menahan nafsu, bukan cuma menahan lapar!

Tags