Profil Ali Khamenei: Dari Penerus Ruhollah Khomeini hingga Arsitek Pertahanan Iran
Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 01 March 2026 | 01:32 PM


amanditmedia.id, Teheran - Sosok Ali Khamenei selama lebih dari tiga dekade menjadi figur paling berpengaruh dalam struktur politik Republik Islam Iran. Ia resmi menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi pada 1989 setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh utama Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan monarki Shah Pahlavi.
Lahir pada 1939 di Mashhad, Khamenei tumbuh dalam keluarga ulama keturunan Azerbaijan. Sejak usia dini ia mendalami studi Al Quran dan pendidikan teologi di Najaf serta Qom. Di kota Qom, ia membangun kedekatan dengan Khomeini dan aktif dalam gerakan oposisi terhadap pemerintahan Shah. Aktivitas politiknya membuat ia berulang kali ditangkap oleh SAVAK sebelum akhirnya turut berperan dalam gelombang protes 1978 yang mengakhiri dinasti Pahlavi.
Sebelum menduduki posisi tertinggi negara, Khamenei menjabat sebagai Presiden Iran pada 1981 hingga 1989. Masa itu bertepatan dengan perang Iran-Irak yang berlangsung delapan tahun. Konflik tersebut membentuk pandangannya terhadap Barat, terutama Amerika Serikat, yang dianggap memberi dukungan kepada Saddam Hussein.
Di bawah kepemimpinannya sebagai Pemimpin Tertinggi, Korps Garda Revolusi Islam berkembang menjadi kekuatan dominan tidak hanya di bidang militer, tetapi juga politik dan ekonomi. Ia juga memperkenalkan konsep ekonomi perlawanan guna memperkuat ketahanan nasional di tengah sanksi internasional.
Meski dikenal tegas terhadap Barat, Khamenei menunjukkan pendekatan pragmatis dalam situasi tertentu. Pada 2015, ia menyetujui langkah Presiden Hassan Rouhani untuk bernegosiasi dengan kekuatan dunia terkait program nuklir Iran. Negosiasi itu menghasilkan Rencana Aksi Komprehensif Bersama atau JCPOA yang bertujuan membatasi program nuklir Teheran dengan imbalan pelonggaran sanksi.
Selama 36 tahun memimpin, Khamenei membentuk arah kebijakan domestik dan luar negeri Iran secara signifikan. Pengaruhnya melekat kuat dalam sistem politik, militer, dan ideologi negara hingga akhir masa kepemimpinannya.
Next News

TVRI Buka Pendaftaran Nobar Resmi Piala Dunia 2026 untuk Kafe hingga Hotel
4 months ago

Kemkomdigi Edukasi Literasi Digital dan Internet Sehat untuk Pelajar di Tangerang
4 months ago

Gregoria Mariska Tunjung Resmi Tinggalkan Pelatnas PBSI, Faktor Kesehatan Jadi Alasan
4 months ago

Gunung Semeru Erupsi Tiga Kali, Kolom Abu Capai 800 Meter
5 months ago

1.585 Posbankum di Jambi Resmi Diluncurkan, Akses Bantuan Hukum Kini Sampai Desa
5 months ago

Bahlil Nilai Batas BBM Subsidi 50 Liter per Hari Wajar, Singgung Pengalaman Jadi Sopir Angkot
6 months ago

Ramai Isu BBM Naik 1 April, Ini Penjelasan Terbaru dari Pusat
6 months ago

UTBK Is Coming: Checklist Amunisi Biar Nggak Panik di Hari-H
6 months ago

Punya 7.000 Triliun, Elon Musk Bisa Beli Apa Saja di Dunia Ini?
6 months ago

Otto Toto Sugiri: Kisah "Bill Gates Indonesia" yang Hartanya Bikin Geleng-Geleng Kepala
6 months ago

