Sabtu, 4 April 2026
Amandit FM
Hiburan

Sam Smith Dulu vs Sekarang: Transformasi yang Bikin Pangling

Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 03 March 2026 | 04:00 PM

Background
Sam Smith Dulu vs Sekarang: Transformasi yang Bikin Pangling
Sam Smith (Instagram/Sam Smith)

Sam Smith: Dari Spesialis Lagu Galau Sampai Jadi Ikon Kebebasan yang Bikin Geger

Kalau kita memutar waktu ke sekitar tahun 2014, nama Sam Smith adalah jaminan mutu buat kamu yang lagi pengen nangis di pojokan kamar sambil meratapi nasib cinta yang bertepuk sebelah tangan. Lewat album "In the Lonely Hour", Sam muncul sebagai sosok pemuda kalem dengan setelan jas rapi, rambut klimis, dan suara falsetto yang sanggup merobek-robek hati. "Stay With Me" dan "I'm Not the Only One" jadi lagu wajib di setiap playlist galau anak muda saat itu. Tapi, kalau kamu lihat Sam Smith hari ini, mungkin kamu bakal butuh waktu sedetik buat meyakinkan diri bahwa ini adalah orang yang sama.

Sam Smith bukan lagi sekadar penyanyi soul yang menyanyikan kesedihan. Mereka telah bertransformasi menjadi sebuah fenomena budaya, simbol keberanian, dan tentu saja, sasaran empuk komentar netizen di media sosial. Perjalanan karier Sam itu ibarat naik roller coaster yang tadinya pelan dan melankolis, tiba-tiba menukik tajam ke arah pesta pora yang penuh glitter dan kebebasan ekspresi.

Evolusi yang Nggak Main-Main

Jujur saja, banyak dari kita yang mungkin sempat kaget. Perubahan Sam Smith dari "sad boy" yang tertutup menjadi sosok yang sangat ekspresif secara visual dan identitas bukanlah proses semalam. Ini adalah perjalanan panjang mencari jati diri di bawah sorot lampu panggung dunia yang kejam. Sam secara terbuka mengumumkan bahwa mereka mengidentifikasi diri sebagai non-binary dan lebih nyaman menggunakan kata ganti "they/them".

Di sinilah menariknya. Di industri musik yang seringkali menuntut standar maskulinitas atau feminitas tertentu, Sam memilih buat mendobrak pintu itu lebar-lebar. Mereka nggak lagi peduli harus pakai tuxedo hitam di setiap red carpet. Sekarang, kita bisa melihat Sam memakai korset, gaun balon yang dramatis, hingga outfit latex yang bikin alis orang-orang konservatif terangkat tinggi. Apakah itu berlebihan? Tergantung siapa yang kamu tanya. Tapi satu hal yang pasti: Sam Smith kelihatan jauh lebih bahagia sekarang daripada saat mereka masih bersembunyi di balik citra penyanyi balada yang "aman".

Era "Unholy" dan Puncak Provokasi Kreatif

Puncak dari transformasi ini meledak lewat lagu "Unholy" yang kolaborasi dengan Kim Petras. Lagu ini bukan cuma enak buat joget di TikTok, tapi juga jadi pernyataan sikap. Beat-nya gelap, liriknya nakal, dan visualnya sangat teatrikal. Lewat lagu ini, Sam membuktikan bahwa mereka nggak cuma jago bikin orang nangis, tapi juga jago bikin orang berdansa (dan mungkin sedikit merasa berdosa). Kemenangan mereka di Grammy untuk kategori Pop Duo/Group Performance bukan cuma soal kualitas vokal, tapi juga soal kemenangan representasi komunitas queer di panggung utama.

Namun, popularitas baru ini datang dengan harga yang mahal. Kritik mengalir deras. Banyak orang yang merindukan "Sam Smith yang dulu", yang katanya lebih sopan dan bersuara emas tanpa perlu aneh-aneh. Fenomena ini menarik kalau kita bedah. Kenapa publik begitu terganggu melihat seseorang merayakan tubuh dan identitasnya? Ada kesan bahwa masyarakat lebih bisa menerima artis yang "sedih dan menderita" daripada artis yang "bebas dan provokatif". Tapi ya, namanya juga Sam Smith, mereka kayaknya sudah punya kulit yang cukup tebal buat nggak ambil pusing sama komentar nyinyir di kolom Instagram.

Lebih Dari Sekadar Urusan Fashion

Kalau kita mau jujur dan melihat lebih dalam, apa yang dilakukan Sam Smith sebenarnya adalah sebuah bentuk perlawanan terhadap fatphobia dan standar kecantikan yang sempit. Sam nggak punya tubuh model yang atletis, dan mereka bangga menunjukkan itu. Di album "Gloria", Sam mengeksplorasi rasa cinta pada diri sendiri yang selama ini mungkin terkubur. Mereka ingin bilang bahwa setiap orang, apa pun bentuk tubuhnya dan bagaimana pun identitas gendernya, berhak merasa seksi dan berhak merayakan hidup.

Kita sering lupa kalau di balik semua kostum heboh dan penampilan panggung yang teatrikal, Sam Smith tetaplah salah satu vokalis terbaik di generasinya. Teknik vokalnya tetap presisi, emosinya tetap sampai ke pendengar, dan kemampuannya menulis lagu nggak berkurang sedikit pun. Bedanya, sekarang lagu-lagunya punya spektrum rasa yang lebih luas. Kalau dulu cuma soal patah hati, sekarang ada soal seksualitas, spiritualitas, hingga kebanggaan diri.

Menjadi Diri Sendiri di Dunia yang Penuh Tuntutan

Melihat profil Sam Smith saat ini adalah melihat seseorang yang sudah selesai dengan urusan "apa kata orang". Di era media sosial di mana semua orang berlomba-lomba jadi terlihat sempurna dan "normal", langkah Sam untuk tampil nyentrik adalah sebuah kesegaran (sekaligus kejutan listrik). Mereka mengajarkan kita bahwa bertumbuh itu bukan berarti diam di tempat yang nyaman. Bertumbuh itu kadang berarti harus siap dihujat demi bisa bernapas lebih lega sebagai diri sendiri.

Mungkin ada sebagian dari kita yang masih kangen lagu sejenis "Lay Me Down", dan itu sah-sah saja. Sam pun kemungkinan besar masih bisa membuat lagu seperti itu kalau mereka mau. Tapi untuk saat ini, Sam Smith sedang menikmati pesta besarnya. Mereka sedang berada di fase di mana seni bukan cuma soal nada, tapi soal bagaimana tubuh dan eksistensi mereka berbicara. Jadi, mau mereka pakai baju bulu-bulu atau sekadar kaos oblong, Sam Smith telah berhasil mencatatkan namanya sebagai salah satu artis paling berani dan berpengaruh dalam sejarah musik modern. Dan jujur saja, dunia butuh lebih banyak orang yang berani jujur pada dirinya sendiri seperti Sam.

Tags