Sabtu, 14 Maret 2026
Amandit FM
Nasional

Sherly Tjoanda: Dari Balik Layar Menuju Panggung Utama Politik Maluku Utara

Hafizah Fikriah Waskan - Sunday, 15 February 2026 | 09:00 AM

Background
Sherly Tjoanda: Dari Balik Layar Menuju Panggung Utama Politik Maluku Utara
Sherly Tjoanda saat kampanye (Instagram/Sherly Tjoanda)

Dunia politik kita itu kadang emang lebih dramatis daripada serial Succession atau drakor makjang yang penuh plot twist. Bayangkan, dalam sekejap mata, hidup seseorang bisa berubah 180 derajat. Dari yang tadinya sibuk mendampingi suami, tiba-tiba harus berdiri paling depan memegang tongkat estafet perjuangan. Inilah yang sekarang sedang dialami oleh Sherly Tjoanda, sosok yang mendadak jadi pusat semesta pembicaraan di Maluku Utara, bahkan nasional.

Nama Sherly sebenarnya bukan nama baru bagi masyarakat Maluku Utara, terutama bagi mereka yang mengikuti kiprah mendiang Benny Laos. Sebagai istri dari mantan Bupati Pulau Morotai, Sherly selalu tampil anggun, suportif, dan terlihat sangat kompak dengan sang suami. Namun, tragedi ledakan speedboat Bella 72 di Pelabuhan Regional Bobong beberapa waktu lalu mengubah segalanya. Tragedi itu nggak cuma merenggut nyawa Benny Laos, tapi juga melempar Sherly ke sebuah arena yang mungkin nggak pernah ia bayangkan sebelumnya: kontestasi Pemilihan Gubernur Maluku Utara.

Tragedi yang Menjadi Titik Balik

Jujur saja, kita semua pasti merinding kalau melihat cuplikan video atau membaca kronologi kejadian di Taliabu itu. Kehilangan pasangan hidup dengan cara yang begitu tragis adalah trauma yang nggak main-main. Tapi, yang bikin publik tercengang adalah keberanian Sherly. Belum kering air mata, kaki pun masih dalam proses pemulihan karena luka bakar dan cedera, ia menyatakan kesiapannya untuk menggantikan posisi suaminya sebagai calon gubernur. Ini bukan sekadar "aji mumpung", tapi sebuah keputusan yang kalau kita lihat dari kacamata kemanusiaan, rasanya berat banget buat dipikul.

Banyak yang bilang ini adalah bentuk loyalitas tanpa batas. Sherly seolah ingin bilang bahwa mimpi-mimpi Benny Laos buat Maluku Utara nggak boleh ikut tenggelam bersama kapal yang meledak itu. Di media sosial, banyak netizen yang memberikan dukungan moral. Gaya bicaranya yang tenang meski dalam kondisi berduka bikin banyak orang simpati. "Gila sih, mentalnya baja banget," begitu komentar yang sering mampir di kolom komentar unggahan tentangnya.

Bukan Sekadar "Pemain Pengganti"

Masuknya Sherly Tjoanda ke bursa Pilgub Maluku Utara tentu memicu diskusi hangat di kalangan pengamat politik. Ada yang menilai ini adalah strategi untuk menjaga momentum elektabilitas yang sudah dibangun Benny Laos. Istilahnya, "simpathy vote" atau suara simpati memang nyata adanya dalam politik Indonesia. Tapi, kalau kita bedah lebih dalam, Sherly bukan sekadar pajangan. Selama ini, ia dikenal sebagai sosok yang cerdas dan punya pemahaman yang lumayan oke soal dinamika sosial di sana.

Didukung oleh koalisi partai besar seperti NasDem, PKB, Demokrat, hingga PAN, Sherly membuktikan bahwa dirinya punya daya tawar yang gak kaleng-kaleng. Keputusan partai-partai ini buat langsung "gaspol" mendukung Sherly menunjukkan bahwa mereka melihat ada potensi kepemimpinan yang kuat dalam dirinya. Dia bukan cuma sekadar "pengganti" yang duduk manis, tapi dia punya narasi sendiri. Narasi tentang ketangguhan perempuan dan kelanjutan pembangunan.

Namun, tentu saja tantangannya nggak gampang. Politik itu kejam, Bung! Sherly harus berhadapan dengan lawan-lawan politik yang sudah jauh lebih lama malang melintang di birokrasi dan lapangan. Belum lagi soal kondisi fisiknya yang belum pulih total. Bayangkan harus kampanye keliling pulau-pulau di Maluku Utara yang medannya cukup menantang sambil menahan rasa sakit fisik. Itu butuh dedikasi yang levelnya sudah di atas rata-rata.

Perspektif Baru: Perempuan di Puncak Kekuasaan

Menariknya lagi, kehadiran Sherly Tjoanda ini membawa angin segar bagi representasi perempuan di wilayah Timur Indonesia. Selama ini, panggung politik di sana sering kali didominasi oleh figur laki-laki dengan gaya maskulin yang kental. Sherly hadir dengan pendekatan yang berbeda. Dia membawa empati, ketenangan, namun tetap dengan ketegasan yang terukur. Ini bisa jadi momen pembuktian bahwa perempuan juga bisa jadi nakhoda di tengah badai politik yang besar.

Kita sering melihat di media sosialnya, Sherly aktif membagikan momen-momen saat dia berinteraksi dengan warga. Dia nggak terlihat kaku. Ada kesan bahwa dia benar-benar mendengarkan. Gaya komunikasi yang lebih "human-to-human" ini biasanya lebih ngena di hati masyarakat sekarang, terutama anak muda yang sudah mulai bosan dengan janji-janji manis politisi bergaya konvensional.

Tentu, ada skeptisisme. Itu wajar. Beberapa orang mungkin bertanya, "Emang dia bisa tanpa bayang-bayang suaminya?" Nah, inilah yang jadi tugas besar Sherly ke depannya. Dia harus bisa membuktikan bahwa meskipun dia membawa visi Benny Laos, dia punya otentisitas sendiri. Dia harus bisa menunjukkan bahwa Sherly Tjoanda adalah seorang pemimpin, bukan hanya seorang ahli waris politik.

Menanti Akhir dari Narasi yang Berani

Perjalanan Sherly ke depan masih panjang dan penuh tikungan tajam. Pilkada Maluku Utara kali ini bakal jadi salah satu yang paling diperhatikan secara nasional. Bukan cuma karena tragedinya, tapi karena ada sosok perempuan yang berani berdiri di atas puing-puing kesedihannya untuk menawarkan masa depan bagi banyak orang. Ini adalah cerita tentang resiliensi, tentang bagaimana seseorang menolak untuk menyerah pada keadaan.

Apakah Sherly akan berhasil merebut hati mayoritas warga Maluku Utara? Hanya waktu yang bisa menjawab. Tapi satu hal yang pasti, keberaniannya sudah mencuri panggung. Dia sudah memberikan pelajaran penting buat kita semua bahwa dalam hidup, kita mungkin nggak bisa memilih tragedi apa yang datang, tapi kita selalu punya pilihan untuk bangkit dan melanjutkan perjuangan dengan kepala tegak.

Apapun hasilnya nanti, Sherly Tjoanda sudah menuliskan babak baru dalam sejarah politik Maluku Utara. Sebuah babak yang penuh emosi, perjuangan, dan tentu saja, harapan yang tak padam meski diterjang badai. Kita tonton saja kelanjutannya, sambil berharap yang terbaik buat kemajuan masyarakat di sana. Karena pada akhirnya, politik seharusnya memang tentang itu: tentang manusia dan kesejahteraannya.