Selasa, 14 April 2026
Amandit FM
Hiburan

Siapa Sih yang Nggak Kenal Mas Abel? Menyelami Sisi Gelap dan Gemerlap The Weeknd

Hafizah Fikriah Waskan - Monday, 16 March 2026 | 08:00 PM

Background
Siapa Sih yang Nggak Kenal Mas Abel? Menyelami Sisi Gelap dan Gemerlap The Weeknd
The Weeknd (Billboard.com/The Weeknd)

Kalau kita bicara soal musik pop modern, rasanya nggak afdol kalau nggak nyebut nama Abel Makkonen Tesfaye, atau yang lebih beken dengan nama panggung The Weeknd. Pria asal Kanada ini bukan cuma sekadar penyanyi; dia itu fenomena. Ibarat martabak manis yang topping-nya komplit, musik Abel punya segalanya: melodi yang gampang nempel di kuping, lirik yang kadang bikin dahi berkerut karena terlalu jujur, dan estetika visual yang selalu niat banget. Tapi, gimana sih perjalanannya dari seorang cowok misterius di YouTube sampai jadi "raja" yang menguasai tangga lagu dunia?

Coba kita putar waktu ke tahun 2011. Waktu itu, internet dikejutkan dengan munculnya mixtape berjudul House of Balloons. Nggak ada foto wajah penyanyinya, nggak ada promosi besar-besaran, cuma musik R&B yang gelap, atmosferik, dan jujurly agak bikin merinding sekaligus ketagihan. Orang-orang bertanya-tanya, "Ini siapa sih?" Suaranya mirip Michael Jackson, tapi vibe-nya kok kayak orang yang lagi patah hati di pojokan kelab malam yang remang-remang. Abel sengaja menyembunyikan identitasnya, membuat persona The Weeknd terasa seperti urban legend di dunia musik.

Seiring berjalannya waktu, si "Mas-mas Kanada" ini mulai berani tampil ke permukaan. Dari yang tadinya cuma main di genre PBR&B yang segmented, Abel pelan-pelan geser ke arah pop yang lebih ramah di telinga banyak orang. Tapi uniknya, dia nggak kehilangan jati dirinya yang kelam. Pas era album Beauty Behind the Madness dan Starboy, kita disuguhi lagu-lagu hits macam "Can't Feel My Face" atau "The Hills". Melodinya enak banget buat goyang, tapi kalau kalian beneran dengerin liriknya, isinya tuh nggak jauh-jauh dari toxic relationship, obat-obatan, dan kehampaan hidup di bawah lampu Hollywood. Kontras yang gila, kan?

Satu hal yang bikin The Weeknd beda dari popstar kebanyakan adalah dedikasinya pada konsep. Ingat era album After Hours? Abel muncul dengan setelan jas merah, muka penuh perban, sampai prostetik yang bikin wajahnya kelihatan kayak habis operasi plastik gagal. Dia bukan lagi sekadar penyanyi yang jualan tampan, tapi dia adalah seorang aktor dalam narasi yang dia buat sendiri. Dia rela tampil "jelek" atau "babak belur" di depan publik selama setahun penuh demi mendalami peran karakter dalam albumnya. Itu dedikasi yang nggak kaleng-kaleng, sih. Nggak heran kalau lagu "Blinding Lights" pecah banget dan jadi salah satu lagu paling sukses sepanjang masa di Spotify.

Tapi ya namanya juga hidup, nggak selamanya mulus. Kita pasti ingat drama waktu Abel secara mengejutkan nggak dapet satu pun nominasi di Grammy Awards 2021, padahal album After Hours lagi meledak-ledaknya. Reaksi netizen? Ngamuk. Abel sendiri lewat media sosialnya langsung nge-gas dan bilang kalau Grammy itu korup. Sejak saat itu, dia memutuskan buat memboikot ajang tersebut. Menurut opini pribadi saya sih, ini justru makin ningkatin level "cool" seorang Abel. Dia membuktikan kalau validasi dari sebuah trofi itu nggak lebih penting daripada koneksi jujur antara musisi dengan pendengarnya.

Masuk ke era Dawn FM, Abel lagi-lagi berevolusi. Kali ini dia bawa kita ke dunia synth-pop ala tahun 80-an yang dibalut dengan narasi tentang transisi menuju "kehidupan setelah kematian". Suara narator di album itu diisi oleh Jim Carrey—yes, si aktor komedi itu—yang bikin suasana albumnya makin terasa surealis. Di sini kita bisa lihat kalau Abel makin matang. Dia nggak cuma pengen bikin lagu yang laku di TikTok, tapi dia pengen bikin sebuah karya seni yang utuh dan punya cerita mendalam.

Sekarang, kabar yang beredar bilang kalau Abel mau mematikan identitas "The Weeknd". Dia merasa bab itu sudah selesai dan ingin kembali menggunakan nama aslinya, Abel Tesfaye, untuk karya-karya selanjutnya. Sedih sih, tapi ya masuk akal juga. Kita sebagai pendengar sudah melihat dia tumbuh dari cowok yang "high" di kamar apartemen sampai jadi megabintang yang tampil di panggung Super Bowl. Evolusi itu perlu, biar nggak bosen dan nggak terjebak di zona nyaman yang itu-itu saja.

Apa sih yang bikin kita terus dengerin lagunya? Mungkin karena di balik semua keglamoran itu, ada rasa kesepian dan kerentanan yang dia bagikan. Kita semua pernah ngerasa "low" dan musik The Weeknd seolah jadi teman yang nggak menghakimi. Mau lagi galau maksimal, lagi pengen jogja-jogja tipis di kamar, atau lagi butuh semangat pas nyetir malam-malam, lagu-lagu Abel selalu punya tempat yang pas.

Akhir kata, The Weeknd adalah bukti kalau musik pop nggak harus selalu ceria dan penuh warna pelangi. Terkadang, keindahan justru ditemukan dalam kegelapan dan kejujuran yang pahit. Entah nanti dia bakal berubah jadi Abel yang baru atau tetap membawa sisa-sisa kegelapan The Weeknd, satu yang pasti: industri musik dunia bakal terus nungguin apa lagi kejutan yang bakal keluar dari kepala jenius cowok berambut ikonik ini. Yuk, mari kita tunggu babak barunya sambil dengerin ulang lagu-lagu hitsnya sekali lagi!

Tags