Senin, 20 April 2026
Amandit FM
Hiburan

SZA: Ratu Galau Sejuta Umat yang Mengajarkan Kita Bahwa Jadi Berantakan Itu Oke

Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 17 March 2026 | 03:00 AM

Background
SZA: Ratu Galau Sejuta Umat yang Mengajarkan Kita Bahwa Jadi Berantakan Itu Oke
SZA (Billboard.com/SZA)

Pernah nggak sih kalian ngerasa dunia ini lagi nggak adil, terus kalian mutusin buat mengurung diri di kamar, matiin lampu, dan dengerin lagu yang liriknya kayak lagi ngebacain isi kepala kalian yang paling gelap? Kalau iya, kemungkinan besar soundtrack yang kalian putar adalah lagu dari SZA. Solána Imani Rowe, atau yang kita kenal sebagai SZA, bukan cuma sekadar penyanyi R&B biasa. Dia adalah representasi dari setiap orang yang pernah merasa insecure, bingung sama masa depan, atau terjebak dalam hubungan yang toxic tapi nggak bisa lepas.

SZA itu ibarat temen tongkrongan yang kalau curhat bisa jujur banget sampai bikin kita ngebatin, "Gila, ini gue banget." Dia nggak jualan image sempurna kayak bintang pop pada umumnya yang selalu kelihatan berkilau. SZA justru laku karena dia berani tampil "berantakan". Lewat lirik-liriknya, dia mengakui kalau dia bisa jadi orang yang posesif, rendah diri, bahkan jahat dalam sebuah hubungan. Dan uniknya, kejujuran brutal itulah yang bikin jutaan orang di seluruh dunia merasa divalidasi.

Lahirnya Ctrl dan Revolusi Galau Gen Z

Kalau kita mau ngomongin SZA, kita wajib banget bahas album "Ctrl" yang rilis tahun 2017. Jujur aja, album ini tuh kayak kitab suci buat anak muda yang lagi ngalamin krisis perempatan hidup atau quarter-life crisis. Lewat lagu "20 Something", SZA dengan gamblang bilang kalau di usia dua puluhan, kita tuh sebenarnya nggak tahu apa-apa. Kita cuma pura-pura dewasa padahal hati masih rapuh banget.

Ingat lagu "The Weekend"? Itu lagu sempat bikin geger karena liriknya yang seolah-olah menormalisasi posisi sebagai "orang ketiga" atau pembagian waktu dalam hubungan. Tapi kalau kita bedah lebih dalam, itu adalah cara SZA memotret realita kencan zaman sekarang yang makin ribet dan nggak jelas statusnya. Dia nggak berusaha jadi guru moral; dia cuma memotret apa yang terjadi di lapangan. Gaya penulisan liriknya yang naratif dan penuh metafora tapi tetap terasa slangy bikin dia beda dari solois R&B lainnya.

Masa Penantian dan Tekanan Album Kedua

Setelah sukses besar dengan Ctrl, SZA sempat "menghilang" cukup lama. Fansnya sampai sering bikin meme tentang betapa lamanya SZA merilis karya baru. Lima tahun itu waktu yang lama banget buat ukuran industri musik modern yang serba cepat. Ada rumor soal konflik label, ada juga kabar kalau dia merasa tertekan karena harus melampaui standar tinggi yang dia buat sendiri. Tapi ya, namanya juga seniman, butuh waktu buat "masak" sesuatu yang bener-bener jujur.

Selama masa hiatus itu, SZA tetap muncul lewat kolaborasi-kolaborasi maut, kayak "All The Stars" bareng Kendrick Lamar buat soundtrack Black Panther. Tapi tetap aja, publik haus akan narasi personal dari seorang Solána. Kita semua pengen tahu, setelah lima tahun berlalu, apakah dia masih segalau dulu? Atau dia sudah menemukan kedamaian yang dia cari-cari?

SOS: Ledakan Emosi yang Lebih Berani

Akhirnya di penghujung 2022, "SOS" lahir. Dan gila, penantian itu terbayar tuntas. Album ini isinya 23 lagu, yang kalau dipikir-pikir itu banyak banget, tapi anehnya nggak ada yang kerasa kayak lagu sampah atau filler. Di sini, SZA tampil lebih berani bereksperimen. Dia nggak cuma main di ranah R&B, tapi juga nyerempet ke punk-rock di lagu "F2F" dan nuansa folk-pop di lagu lainnya.

Lagu "Kill Bill" jadi fenomena global bukan tanpa alasan. Melodinya enak, tapi liriknya serem sekaligus lucu: "I might kill my ex, not the best idea." Siapa sih yang nggak pernah punya pikiran impulsif pas lagi patah hati? SZA mengambil perasaan-perasaan ekstrem itu dan mengubahnya jadi sesuatu yang estetis. Di album SOS, SZA menunjukkan kalau dia sudah lebih dewasa, tapi tetap punya sisi rapuh yang sama. Dia menunjukkan kalau bertumbuh itu bukan berarti kita berhenti jadi orang yang punya rasa cemas, tapi lebih ke gimana kita hidup berdampingan dengan kecemasan itu.

Kenapa SZA Begitu Spesial?

Menurut opini pribadi saya, kekuatan utama SZA ada pada vokal dan penulisan liriknya yang kerasa sangat "manusiawi". Suaranya punya tekstur yang unik, kadang kayak orang lagi gumam, kadang tajam banget, tapi selalu penuh emosi. Dia nggak takut buat terdengar vokal yang pecah atau nggak sempurna kalau itu memang dibutuhkan buat menyampaikan perasaan di lagunya.

Selain itu, SZA adalah ikon bagi perempuan kulit hitam di industri musik yang seringkali dituntut untuk selalu kuat atau "Strong Black Woman". SZA mendobrak stigma itu. Dia menunjukkan kalau menjadi rentan, merasa tidak cukup cantik (kayu di lirik "Drew Barrymore"), atau merasa kalah itu adalah bagian dari pengalaman manusia yang valid. Dia memberi ruang buat kita semua untuk merasa "nggak oke" di tengah dunia yang terus-terusan nyuruh kita buat "positif".

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Tren

SZA sudah membuktikan kalau dia bukan cuma sekadar tren TikTok lewat potongan lagu "Snooze" atau "Kill Bill". Dia adalah seorang storyteller ulung di generasi kita. Pengaruhnya bisa dilihat dari gimana cara anak muda sekarang berbicara tentang perasaan mereka—lebih terbuka, lebih apa adanya, dan sedikit sarkastik terhadap penderitaan sendiri.

Jadi, kalau nanti malam kalian ngerasa dunia lagi berat-beratnya, jangan ragu buat putar lagu SZA. Biarin dia "ngomel" dan "curhat" di telinga kalian. Karena pada akhirnya, dengerin SZA itu kayak diingetin kalau kita nggak sendirian dalam kegalauan ini. Kita semua cuma manusia yang lagi berusaha bertahan hidup, sambil sesekali pengen kirim pesan ke mantan padahal tahu itu ide buruk. Dan itu, menurut SZA, nggak apa-apa banget.

  • Tetap jujur dengan perasaan sendiri, sekacau apapun itu.
  • Keberanian untuk bereksperimen dengan genre musik.
  • Kekuatan dalam kerentanan (vulnerability).

SZA bukan cuma penyanyi, dia adalah cermin bagi kita semua yang masih belajar mencintai diri sendiri di tengah dunia yang penuh tuntutan. Jadi, mari kita nikmati setiap lirik galaunya sambil berharap album berikutnya nggak perlu nunggu lima tahun lagi.

Tags