Senin, 6 April 2026
Amandit FM
Hiburan

Mengenal LANY: Band Spesialis Lagu Galau yang Bikin Kita Betah Jadi Sad Boy dan Sad Girl

Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 03 March 2026 | 05:00 PM

Background
Mengenal LANY: Band Spesialis Lagu Galau yang Bikin Kita Betah Jadi Sad Boy dan Sad Girl
LANY (Instagram/Lany)

Kalau kita bicara soal band yang paling jago bikin suasana hati jadi melankolis tapi tetap terasa estetik, nama LANY pasti bakal muncul di urutan teratas. Buat kalian yang sering nongkrong di Spotify atau TikTok, lagu-lagu mereka kayak sudah jadi soundtrack wajib buat momen-momen bengong di pinggir jendela sambil nunggu hujan reda. Tapi, siapa sih sebenarnya mereka ini? Kenapa band asal Amerika Serikat ini bisa punya ikatan batin yang begitu kuat sama pendengar di Indonesia, sampai-sampai kalau mereka konser di Jakarta, tiketnya selalu ludes kayak gorengan panas?

LANY, yang merupakan akronim dari Los Angeles New York, awalnya terbentuk dari ketidaksengajaan yang berbuah manis. Ceritanya bermula di Nashville tahun 2014. Paul Klein, sang vokalis yang punya gaya rambut ikonis dan karisma ala model runaway, ngajak dua temannya, Jake Goss dan Les Priest, buat bikin proyek musik. Lucunya, mereka nggak muluk-muluk. Mereka merekam lagu di kamar pakai komputer seadanya. Nama LANY sendiri dipilih karena mereka pengen punya nama yang merangkum Amerika Serikat dari ujung barat ke ujung timur. Sederhana, tapi ngena banget di kuping.

Warna musik LANY itu unik. Mereka sering disebut sebagai pengusung genre dream pop atau indie pop, tapi kalau menurut gue pribadi, mereka itu lebih ke arah "pop estetik". Ada sentuhan synth-pop era 80-an yang dipoles dengan produksi modern yang bersih banget. Dengerin lagu LANY itu rasanya kayak jalan-jalan di pinggir pantai California waktu sunset, tapi hati lagi agak perih karena baru diputusin pacar. Perpaduan antara beat yang catchy tapi lirik yang "nyes" inilah yang jadi senjata rahasia mereka.

Ledakan "ILYSB" dan Masa Keemasan Malibu Nights

Kalau ada satu lagu yang bikin nama LANY meledak ke seluruh dunia, itu adalah "ILYSB" (I Love You So Bad). Lagu ini bener-bener jadi anthem buat anak muda zamannya. Liriknya simpel, repetitif, tapi entah kenapa sangat relatable buat siapa pun yang lagi ngerasain bucin (budak cinta) tingkat dewa. Sejak saat itu, Paul Klein dkk nggak pernah nengok ke belakang lagi. Mereka mulai tur keliling dunia dan membangun fanbase yang sangat loyal.

Tapi, kalau kita tanya fans berat LANY, album mana yang paling membekas, jawabannya pasti hampir seragam: Malibu Nights. Album ini lahir dari patah hati hebatnya Paul Klein setelah putus dari Dua Lipa. Yap, kalian nggak salah baca. Ternyata musisi ganteng kayak Paul juga bisa galau maksimal. Album ini isinya bener-bener curhatan jujur yang dibungkus dengan aransemen yang megah sekaligus sunyi. Lagu kayak "Thru These Tears" atau "Malibu Nights" sukses bikin jutaan orang di luar sana merasa nggak sendirian waktu lagi berada di titik terendah.

Ada semacam opini yang berkembang di kalangan kritikus musik kalau LANY itu band yang "gitu-gitu aja". Tapi menurut gue, di situlah kekuatannya. Mereka nggak mencoba jadi terlalu eksperimental yang bikin pusing kepala. Mereka tahu apa yang mereka jago, yaitu bikin lagu pop yang enak didengar sambil bengong atau nyetir malam hari. Konsistensi mereka dalam menjaga visual yang minimalis—mulai dari font album sampai lighting panggung—bikin LANY bukan cuma sekadar band, tapi sebuah brand lifestyle.

Dinamika Personel dan Hubungan Spesial dengan Indonesia

Perjalanan LANY nggak selamanya mulus kayak jalan tol. Di tahun 2022, Les Priest memutuskan untuk keluar dari band karena pengen fokus ke hal lain. Sekarang, LANY resmi jalan berdua aja: Paul Klein dan Jake Goss. Banyak yang sempat khawatir kalau warna musik mereka bakal berubah drastis, tapi lewat album "a beautiful blur", mereka membuktikan kalau nyawa LANY masih tetap ada. Paul tetep jadi frontman yang "drama", dan Jake tetep jadi penggebuk drum yang solid.

Nah, ngomongin LANY nggak afdol kalau nggak bahas hubungannya dengan Indonesia. Jakarta itu bisa dibilang rumah kedua buat mereka. Bayangin aja, mereka sudah berkali-kali manggung di sini, mulai dari festival musik, konser solo di mall, sampai konser skala stadion. Paul Klein berkali-kali bilang kalau penonton di Indonesia itu yang paling kencang suaranya kalau diajak sing-along. Ada semacam chemistry yang nggak bisa dijelasin kata-kata antara kegalauan Paul dan tingkat apresiasi fans di sini yang luar biasa militan.

Bahkan, saking cintanya sama fans lokal, Paul sering banget pakai outfit yang "lokal banget" atau sekadar menyapa pakai bahasa Indonesia di media sosial. Hal-hal kecil kayak gini yang bikin fans merasa dekat, meskipun mereka bintang internasional. Di mata fans, Paul itu bukan cuma idola, tapi kayak teman yang lagi curhat soal mantannya yang jahat.

Kenapa Kita Masih Suka LANY?

Mungkin ada yang bilang kalau dengerin LANY itu "menye-menye" atau terlalu mainstream. Tapi jujur deh, di tengah gempuran musik yang makin kompleks, kita butuh sesuatu yang jujur dan nggak neko-neko. LANY menawarkan itu. Mereka bicara soal kehilangan, rindu, dan harapan dengan cara yang paling manis. Mereka adalah definisi dari "sad but make it fashion".

Secara musikalitas, Paul Klein punya kemampuan buat bikin melodi yang gampang nyangkut di kepala (earworm) tanpa harus terdengar murahan. Suara vokalnya yang agak serak-serak basah dan cara dia bernyanyi yang seolah berbisik bikin setiap kata di liriknya terasa sangat personal. Kita kayak ditarik masuk ke dalam dunianya yang penuh warna neon dan perasaan yang campur aduk.

Akhir kata, LANY adalah bukti kalau musik pop nggak harus selalu ceria buat bisa disukai banyak orang. Mereka berhasil memvalidasi perasaan sedih kita dan mengubahnya menjadi sesuatu yang indah untuk dinikmati. Jadi, buat kalian yang malam ini lagi pengen galau estetik, silakan pasang earphone, buka playlist LANY, dan biarkan Paul Klein menemani malam kalian. Toh, patah hati memang lebih enak dirayakan bareng-bareng lewat lagu, kan?

Tags