Sejarah The Lumineers: Mengulik Makna di Balik Lagu Folk Ikonik
Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 03 March 2026 | 08:00 PM


The Lumineers: Bukan Sekadar Band 'Ho Hey', Tapi Kawan Curhat Lewat Petikan Gitar
Kalo kita ngomongin musik folk-rock yang sempet meledak di awal 2010-an, nama The Lumineers pasti nyelip di urutan teratas bareng Mumford & Sons atau Of Monsters and Men. Tapi jujur aja, buat sebagian orang, band ini mungkin cuma diinget lewat teriakan "Ho!" dan "Hey!" yang ikonik itu. Padahal, kalo kita mau ulik lebih dalem, band asal Denver, Amerika Serikat ini punya kedalaman cerita yang jauh melampaui satu lagu hits yang diputer di tiap resepsi pernikahan atau kafe-kafe hipster tersebut.
The Lumineers itu ibarat secangkir kopi item di sore yang mendung. Nggak perlu banyak gula, nggak perlu latte art yang ribet, tapi rasanya nendang dan bikin tenang. Mereka nggak jualan teknik vokal yang meliuk-liuk atau distorsi gitar yang bikin telinga pengeng. Senjata mereka cuma kejujuran, lirik yang puitis tapi membumi, dan ketukan drum yang rasanya kayak detak jantung kita sendiri.
Berawal dari Duka yang Diubah Jadi Karya
Perjalanan The Lumineers nggak dimulai di studio mewah dengan kontrak jutaan dolar. Inti dari band ini adalah duo Wesley Schultz dan Jeremiah Fraites. Uniknya, mereka berdua nggak sekadar temen ngeband biasa. Mereka disatukan oleh sebuah tragedi. Kakak Jeremiah, Josh Fraites, yang juga temen deket Wesley, meninggal dunia karena overdosis obat-obatan di usia muda. Alih-alih tenggelam dalam kesedihan yang destruktif, Wesley dan Jeremiah milih buat menyalurkan rasa kehilangan itu lewat musik.
Gila, sih, bayangin aja gimana rasanya nulis lagu buat ngobatin luka ditinggal orang tersayang. Mungkin itu sebabnya lagu-lagu mereka selalu punya aura "raw" atau mentah. Nggak ada yang dibuat-buat. Mereka mulai main di New York, tapi karena biaya hidup di sana mencekik leher (namanya juga seniman baru mau rintis karier), mereka akhirnya nekat pindah ke Denver, Colorado. Di sinilah mereka ketemu sama Neyla Pekarek, seorang pemain cello yang akhirnya ngelengkapin formasi ikonik mereka selama bertahun-tahun.
Ledakan 'Ho Hey' dan Risiko Jadi One-Hit Wonder
Tahun 2012 jadi titik balik hidup mereka. Lagu "Ho Hey" meledak di mana-mana. Radio, TV, mall, sampe angkot mungkin sempet muterin lagu ini. Kesuksesan ini sebenernya pedang bermata dua. Di satu sisi, mereka jadi kaya dan terkenal mendadak. Di sisi lain, ada beban berat: bisa nggak mereka buktiin kalo mereka bukan cuma band 'one-hit wonder' yang bakal ilang ditelan bumi setelah tren folk-folk-an ini lewat?
Untungnya, The Lumineers bukan tipe musisi yang cuma ngejar angka streaming. Mereka konsisten. Album pertama mereka yang bertajuk self-titled itu sebenernya penuh sama lagu-lagu jenius kayak "Stubborn Love" atau "Dead Sea". Liriknya tuh dalem banget, kayak ngajak kita ngobrol dari hati ke hati di teras rumah sambil ngeliatin bintang. Mereka berhasil ngebuktiin kalo musik yang sederhana—cuma modal gitar akustik, piano, dan stompbox—bisa punya kekuatan yang dahsyat kalau jiwanya dapet.
Evolusi yang Nggak Neko-neko
Masuk ke album kedua, Cleopatra (2016), The Lumineers tampil lebih dewasa. Mereka nggak lagi cuma teriak "Hey" dan "Ho". Mereka mulai bercerita tentang tokoh-tokoh nyata, tentang patah hati yang lebih kelam, dan kehidupan setelah ketenaran. Judul lagu "Cleopatra" sendiri diambil dari kisah nyata seorang supir taksi perempuan yang mereka temuin. Narasi kayak gini yang bikin The Lumineers beda. Mereka itu pendongeng yang kebetulan pegang instrumen musik.
Lalu muncul album III di tahun 2019 yang bener-bener eksperimental secara konsep tapi tetep kerasa "Lumineers banget". Album ini dibagi jadi tiga bagian, nyeritain tentang siklus kecanduan dalam sebuah keluarga. Berat banget kan topiknya? Tapi hebatnya, mereka bisa ngebungkus isu kelam itu jadi melodi yang tetep enak didenger. Di sini kita bisa liat kalo Wesley Schultz itu bukan cuma penyanyi, dia itu aktor dalam lagu-lagunya sendiri. Suaranya yang serak-serak basah itu punya emosi yang bisa bikin bulu kuduk merinding.
Kenapa Mereka Masih Relevan Sampai Sekarang?
Di zaman sekarang, di mana musik pop didominasi sama beat elektronik dan autotune yang kenceng, kehadiran The Lumineers itu kayak oase. Mereka tetep setia sama instrumen organik. Pas mereka rilis album Brightside di tahun 2022, mereka makin nunjukin kalo mereka udah "naik kelas". Musiknya kerasa lebih bebas, lebih spontan, kayak sesi jammin' bareng temen di garasi rumah tapi hasilnya kualitas kelas dunia.
Bagi anak muda sekarang, dengerin The Lumineers itu kayak dapet validasi atas rasa sepi atau kegalauan yang lagi dirasain. Mereka nggak berusaha jadi keren dengan gaya hidup mewah atau skandal yang aneh-aneh. Mereka tetep kelihatan kayak mas-mas biasa yang lebih seneng pake topi fedora dan rompi vintage daripada barang-barang branded yang mentereng.
Opini pribadi saya, sih, daya tarik utama band ini ada di kejujuran mereka yang 'nggak kaleng-kaleng'. Mereka berani tampil telanjang secara emosional. Nggak banyak band besar yang mau jujur bilang kalau mereka lagi nggak baik-baik aja lewat liriknya. The Lumineers ngajarin kita kalau nggak apa-apa buat ngerasa rapuh, asalkan kita tetep jalan terus.
Penutup: Musik yang Memanusiakan Manusia
The Lumineers udah ngelewatin banyak hal, mulai dari ditinggal personel (Neyla Pekarek keluar di 2018 buat solo karier), sampe perubahan tren musik dunia yang cepet banget. Tapi mereka tetep berdiri tegak. Mereka bukan cuma band yang lewat gitu aja pas tren indie folk lagi hype. Mereka punya pondasi yang kuat karena karya mereka berangkat dari pengalaman manusia yang universal: cinta, duka, dan perjuangan buat tetep waras.
Jadi, kalau besok-besok kalian denger lagu "Ho Hey" lagi di radio, coba deh dengerin juga album-album mereka yang lain. Siapa tahu, kalian bakal nemu lagu yang pas banget buat nemenin malam-malam galau atau sekadar jadi penyemangat pas lagi capek-capeknya sama urusan dunia. Karena pada akhirnya, The Lumineers itu bukan soal seberapa keras teriakan mereka, tapi seberapa dalem cerita yang mereka titipin di sela-sela melodi mereka.
Next News

Menjaga Kewarasan dan Fokus Saat UTBK: Biar Nggak Nge-blank Pas Ketemu Soal
5 days ago

Gimana Caranya Biar Skor UTBK Nggak Gitu-gitu Aja? Tips Ampuh Naik Drastis Tanpa Harus Jadi Robot
5 days ago

Seni Bertahan Hidup di Arena UTBK: Gimana Caranya Ngerjain Cepat Tanpa Perlu Pakai Jin?
6 days ago

Strategi War UTBK: Cara Biar Nggak 'Ngutang' Jawaban Saat Waktu Habis
6 days ago

Seni Menyusun Jadwal Belajar UTBK yang Nggak Bikin Tipis Harapan (dan Tipis Dompet)
6 days ago

Panduan Survival UTBK: Bocoran Materi Langganan Muncul Biar Nggak Sia-sia Ambis
6 days ago

Seni Bertahan Hidup Menghadapi UTBK: Bukan Cuma Soal Pintar, Tapi Soal Waras
6 days ago

UTBK Udah Deket Tapi Masih Blank? Begini Cara 'War' Jalur Ekspres Tanpa Bikin Tipus
6 days ago

Panduan Doa Sembelih Kurban Idul Adha Sesuai Sunnah
9 days ago

Lebih dari Sekadar Sate: Membedah Sisi Spiritual dan Sosial di Balik Tradisi Kurban
7 days ago





