Ekonom Peringatkan Dampak Jika Harga BBM Naik: Inflasi Tinggi hingga Risiko Resesi
Hafizah Fikriah Waskan - Tuesday, 10 March 2026 | 01:50 PM


amanditmedia.id, Jakarta – Pemerintah didorong segera menyiapkan langkah konkret untuk mengantisipasi lonjakan harga minyak dunia yang dipicu konflik di kawasan Timur Tengah. Kenaikan harga energi global dikhawatirkan memberi tekanan besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya dalam menahan subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Sejumlah ekonom menilai jika harga BBM akhirnya harus dinaikkan karena keterbatasan fiskal, dampaknya dapat langsung dirasakan masyarakat melalui meningkatnya harga berbagai kebutuhan pokok.
Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, mengatakan kenaikan harga BBM bersubsidi berpotensi memicu lonjakan inflasi sekaligus menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.
Menurutnya, kebijakan menaikkan harga BBM pada periode menjelang perayaan Idulfitri juga cukup berisiko. Pasalnya, momentum hari raya biasanya diikuti kenaikan harga berbagai kebutuhan masyarakat.
Jika penyesuaian harga BBM dilakukan pada waktu yang sama, maka tekanan inflasi dapat meningkat lebih besar karena dua faktor tersebut terjadi bersamaan.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira. Ia memperkirakan inflasi tahunan bisa melonjak hingga kisaran 6 hingga 8 persen apabila harga BBM mengalami kenaikan.
Menurut Bhima, lonjakan inflasi tersebut berpotensi melemahkan daya beli masyarakat karena pengeluaran rumah tangga akan meningkat. Dampaknya, konsumsi masyarakat dapat melambat sehingga aktivitas ekonomi ikut tertekan.
Ia juga mengingatkan kondisi tersebut dapat berdampak pada sektor industri. Ketika permintaan menurun, pelaku usaha kemungkinan akan menekan produksi yang pada akhirnya meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor, termasuk manufaktur dan perdagangan.
Lebih jauh, Bhima menilai tekanan ekonomi tersebut juga berpotensi membuat sebagian kelompok kelas menengah turun ke kategori rentan miskin. Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin perekonomian nasional menghadapi risiko perlambatan bahkan resesi.
Untuk menghindari dampak tersebut, para ekonom menyarankan pemerintah mempertimbangkan penyesuaian prioritas anggaran. Salah satu opsi yang dinilai dapat ditempuh adalah melakukan refocusing atau pengalihan sebagian belanja negara agar subsidi energi tetap terjaga dan harga BBM tidak perlu dinaikkan di tengah tekanan harga minyak dunia.
Next News

TVRI Buka Pendaftaran Nobar Resmi Piala Dunia 2026 untuk Kafe hingga Hotel
3 months ago

Kemkomdigi Edukasi Literasi Digital dan Internet Sehat untuk Pelajar di Tangerang
4 months ago

Gregoria Mariska Tunjung Resmi Tinggalkan Pelatnas PBSI, Faktor Kesehatan Jadi Alasan
4 months ago

Gunung Semeru Erupsi Tiga Kali, Kolom Abu Capai 800 Meter
4 months ago

1.585 Posbankum di Jambi Resmi Diluncurkan, Akses Bantuan Hukum Kini Sampai Desa
5 months ago

Bahlil Nilai Batas BBM Subsidi 50 Liter per Hari Wajar, Singgung Pengalaman Jadi Sopir Angkot
5 months ago

Ramai Isu BBM Naik 1 April, Ini Penjelasan Terbaru dari Pusat
5 months ago

UTBK Is Coming: Checklist Amunisi Biar Nggak Panik di Hari-H
5 months ago

Punya 7.000 Triliun, Elon Musk Bisa Beli Apa Saja di Dunia Ini?
6 months ago

Otto Toto Sugiri: Kisah "Bill Gates Indonesia" yang Hartanya Bikin Geleng-Geleng Kepala
6 months ago
